Only One - 17

87 17 8
                                        

Only One - 17 : Surat Perjanjian

-----

"Hah, a-astaga!"

MIYA melotot saat melihat Eno berdiri di dekat pintu kos. Cowok berambut cepak itu membekap mulut Miya seraya memberi isyarat dengan telunjuknya agar diam. Miya yang melihat itu hanya bisa menurut.

Eno meringis pelan, "aduh Miy, ada bahaya nih." ia berbisik panik.

"Emang a-apaan sih?" tanya Miya keheranan. Dia juga bingung kenapa lampu kos dimatikan, semuanya benar-benar gelap meskipun sudah ada cahaya dari jendela.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Eno menghela nafas, "Claude ada masalah sama si anggota pertama, mereka lagi ngobrol di dapur. Gue juga takut kalau mau ke sana."

Penasaran dengan ucapan Eno, akhirnya Miya memutuskan untuk mengecek situasi yang ada di dapur. Namun Eno langsung menahan tangannya sambil menjerit kecil.

"Please jangan cari mati. Si anggota pertama bukan orang sembarangan!!"

Miya memutar bola matanya malas, "apaan sih No, jangan berlebihan deh!" ketus Miya jadi kesal sendiri. Daritadi Eno terus-menerus menahannya.

"Kita ngintip aja, gak usah terang-terangan masuk ke dapur."

Awalnya Eno terlihat ragu mendengar ajakan Miya. Namun cowok itu akhirnya menurut saja lalu berjalan mengendap-endap bersama Miya.

Mereka bisa melihat ada Claude sedang menunduk di hadapan seorang pria berpakaian serba hitam. Ada juga sosok Hoshi dan Kent yang menyimak tanpa bersuara sedikit pun.

Bahkan Miya masih tidak mengerti dengan situasi ini, banyak sekali misteri yang penuh tanda tanya di A'Kostan...

Apa ada rahasia?

Tuk tuk!

Miya memperhatikan pria di hadapan Claude mengetuk-ngetuk meja sambil menyerahkan sebuah surat. Pria asing itu menyeringai lebar.

Sungguh, senyuman yang ia tunjukkan membuat Miya merinding.

"Cepat tanda tangan, Clau!"

Entah kenapa Claude terlihat pucat pasi, dia seperti ragu apakah harus tanda tangan atau tidak. Miya bisa meyakinkan hal itu karena kedua tangan Claude bergetar.

Kenapa Claude ketakutan begitu?

Eno yang berdiri di sebelah Miya sampai meringis takut dibuatnya, dia menggeleng-gelengkan kepala.

"Gila sih, gue aja sampai takut loh. Padahal kan bu—"

Ucapan Eno terjeda saat Miya mendadak nyelonong masuk ke dalam dapur. Eno harus membekap mulutnya sendiri agar tidak kelepasan untuk menjerit.

Miya ini gila ya?!

Menyadari ada seseorang lagi berada di dalam dapur, sontak semuanya langsung menoleh ke arah pintu. Mereka kompak melotot.

Claude tercekat, "loh Miy?" ia memanggil dengan suara serak.

Tak menggubris Claude, iris mata Miya tertuju ke arah pria asing tadi. Gadis itu melotot tajam.

"Maksud lu apaan ya nyuruh tanda tangan? Lu mau Claude ngapain?" serunya memerotes. "Gak nyadar kalau Claude tuh kelihatan gak nyaman?!"

Pria berpakaian serba hitam itu mengangkat sebelah alis, dia hanya tersenyum miring sembari menopang dagu.

Hoshi dan Kent saling berpandangan, bahkan Eno sampai memberanikan diri ikut masuk ke dapur untuk menarik lengan Miya.

"Miy, ayo kita ke atas aja. Mereka lagi ngobrol." ajak Eno ketakutan, dia mencuri-curi pandang ke arah Hoshi dan Kent.

Only One✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang