Only One - 18 : Penyesalan
-----
"Pilihan yang tepat, Claude."
ZERO menyimpan kembali semua dokumen-dokumen yang ada di atas meja ke dalam tas miliknya. Pria bertubuh tinggi tegap itu tersenyum lebar.
Sungguh, Miya benci sekali melihat senyuman pria itu.
"Saya pergi sekarang, untuk kabar kakakmu selanjutnya akan saya beritahu nanti." Zero memakai jaket hitamnya.
Claude hanya diam saja, dia mengepal kedua tangannya kuat-kuat seolah menahan emosi. Perasaannya campur aduk hari ini.
Dasar psikopat brengsek!
Miya memperhatikan Hoshi yang sedang berjalan mendekati Zero. Cowok keturunan Jepang itu memberikan sebuah flashdisk kepada Zero.
"Ini data yang lu mau, tadi pagi si Bagas ngirim lewat email." ia memberitahu.
Zero mengangguk singkat. "Terimakasih sudah membantu, tapi kamu simpan saja dulu flashdisk-nya. Saya tidak mau rencana saya terbongkar."
Kemudian Zero mengambil tas briefcase miliknya lalu bangkit berdiri. Pria berkulit pucat tersebut menatap Miya yang sedang berdiri di sebelah Claude.
Ia menyeringai, "senang bertemu denganmu. Cepat atau lambat, saya merasa kita akan bertemu lagi nanti...." bisiknya.
"Ha, jangan ngimpi lo!" ketus Miya sinis. "Gue heran kenapa manusia kayak lo bisa tinggal di sini, cukup kali ini aja gue mau ketemu sama lu."
Zero hanya tertawa renyah meskipun sorot matanya berubah dingin.
"Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa jangan menilai seseorang dari luarnya saja, kamu akan malu jika terus berprasangka buruk soal saya."
Miya hanya memutar bola mata seolah tidak peduli, ia tidak peduli dengan semua ocehan pria sinting itu.
Gara-gara dia, Claude jadi kesulitan seperti ini.
Kent menghela nafas ketika mendengar perdebatan antara Miya dan Zero, cowok dengan garis wajah datar itu berinisiatif untuk menengahi.
"Oh iya, lu mau langsung pergi gitu aja?" tanya Kent keheranan.
"Waktu saya terbatas, kalau ada waktu pasti saya akan mampir lagi ke kosan." sahut Zero tenang.
Alis Kent terangkat sebelah, "mau makan dulu? Daritadi kayaknya lu belum sempat makan loh."
"Tidak perlu. Saya langsung pergi saja sekarang," Zero memakai topi. "Lagipula kedatangan saya membuat yang lain jadi tidak nyaman."
Eno yang berada di sana merasa tersinggung karena Zero seolah 'menyindir' dirinya. Dia menahan umpatan yang sedari tadi ingin keluar dari mulutnya.
Tanpa berbicara sepatah kata lagi, Zero berjalan keluar dari kosan lewat pintu belakang. Kepergian pria itu membuat keheningan panjang yang memenuhi ruang dapur.
Hingga beberapa menit kemudian, Miya baru bisa bernafas lega karena aura mencekam itu sudah menghilang.
"Psikopat sialan!" umpat Eno kesal setengah mati. "Apa gue harus minta Ojan buat ngeramal kapan si Zero mati?!"
Hoshi geleng-geleng kepala, "jangan berharap terlalu banyak. Biasanya orang jahat itu umurnya panjang...." ia berpendapat.
Miya hanya menepuk jidat seolah heran dengan isi otak teman-temannya. Tepat ketika Miya hendak berbicara, sosok Claude tiba-tiba bangkit berdiri lalu berbalik pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Only One✔
Ficção Adolescente"Bisakah memilih salah satu di antara mereka berdua?" - Awal kepindahan Miya ke Kos malah membuat gadis itu bertemu lagi dengan sahabat nya sewaktu SMA dulu. Sudah lama lost contact, tentu kecanggungan di antara mereka berdua tidak bisa ditutupi. Se...
