7. Bertemu

15.1K 1.5K 1K
                                        

Harum ceplok telur menyeruak masuk ke dalam penciuman Gryffin. "Dosa gak sih gue bikin ceplok mata sapi satu?" tuturnya bertanya-tanya.

"Matanya satu njir, kek Dajjal!" protesnya saat menghidangkan satu telor ke piring.

"Eh kan ada si Bulan. Jadi, gue bikin atu lagi biar gak kek Dajjal." Ia terkekeh sendiri saat mengetahui kebodohannya.

Kemudian ia melanjutkan acara memasaknya. Setelah menit-menit berlalu ia segera menaruh hidangan ceplok telur di meja makan.

Lantas ia segera menaiki tangga kembali untuk membangunkan Bulan. Saat ia sudah memasuki Kamar Bulan, ternyata Bulan sudah tidak ada di kasur.

Terdengar gemercik air di kamar mandi, sepertinya Bulan tengah membersihkan diri. Ah! Ia tak perlu susah-susah untuk membangunkannya.

Di kasur hanya ada kucing yang terus mengeong seraya menjilati tubuhnya, tandanya kucing itu pun sedang membersihkan dirinya.

Gryffin segera membereskan tempat tidur Bulan, ia manata rapih bantal dan guling serta melipat selimut hingga rapih.

"Gue udah kaya punya anak aja, njir!" gumamnya seraya terkekeh.

Ia beralih membawa tasnya yang menggantung di tembok, kemudian ia memasukan buku yang telah ia siapkan sejak malam.

Tidak lupa ia mengambil dasi dan topi karena sekarang hari senin dan itu adalah hari upacara. Ia memasangkan dasinya dengan rapih, kini dasi abu tersebut sudah menggantung di lehernya.

Merasa lama menunggu Bulan, Gryffin memutuskan untuk menunggu di bawah.

"Bulan, kalo mandinya udah langsung turun, ya!?" teriaknya.

"Iya, Apin!" balas Bulan yang berada di kamar mandi.

Gryffin segera turun menuju meja makan sembari menengteng tasnya yang berwarna hitam pekat.
Tidak lama setelah ia duduk di kursi meja makan, Bulan pun turun menghampiri Gryffin yang sudah menunggu.

Netranya terpana dengan seragam yang dikenakan oleh Gryffin. "Apin bajunya sama kaya Kakak," lirihnya sembari mendaratkan bokongnya di kursi.

"Kakak lo masih SMA? SMA mana?" tanya spontan.

Bulan menggeleng samar tanda tidak mengetahui.

"Buruan ah! Makan dulu, nanti gue telat," tuturnya lalu menyodorkan piring yang berisikan telor ceplok bersama nasi.

Saat piring itu sudah berada di hadapan Bulan, ia berkomentar, "Lucu ...."

Menanggapi itu, Gryffin hanya menggeleng-geleng kecil. Kemudian ia melanjutkan sarapan paginya.

Sekitar lima menit berlalu, sarapannya habis tak tersisa sedikit pun. Gryffin menaplokan tasnya di punggung, lalu ia berdiri bersiap untuk pamitan.

"Bul, gue pergi dulu ke sekolah, ya?"

"Sekolah?" tuturnya kembali dan dibalas anggukan oleh Gryffin.

"A--ku mau ikut!" pekiknya lucu.

Gryffin menggeleng. "Lo gak boleh ikut, gue mau belajar bukan mau main," balasnya.

Raut wajah Bulan menjadi sedih seketika. "Tapi, aku mau ikut. Kalo Apin pergi nanti a--ku sendirian ...." lirihnya.

"Kan ada kucing ama si panda."

Bulan keras kepala, ia menggeleng. "Gak mau! Mau ikut ...." gumamnya tak menyetujui apa yang dikatakan oleh Gryffin.

"Ini udah siang, Bul. Gue bisa telat kalo lo terus ngerengek minta ikut mah, lagian lo 'kan udah janji bakalan nurut ama gue!" tandasnya mulai merasa kesal.

Tiga Semprul & BulanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang