Usai berdebat dengan Yollana, Gryffin segera masuk ke dalam mobil seraya memangku Bulan. Gadis itu menangis sembari menyembunyikan wajahnya di cekuk leher Gryffin.
Cairan kental berwarna merah keluar begitu banyak, noda merah itu menempel pada pundak Gryffin. Ia segera menyalakan mesin mobilnya lalu melesatkan dengan kecepatan penuh.
Sepeninggal Gryffin, Yollana cemberut kesal dengan kaki yang terus di hentak-hentakan. Disusul dengan Surya yang segera pulang dengan kendaraan kesayangannya.
Di sepanjang perjalanan sesekali Gryffin mengusap punggung Bulan yang terus bergetar. Jemari mungilnya mencengkram kuat punggung bagian atas Gryffin, seperti menahan sakit yang tengah ia rasakan.
"Tahan, ya? Kita ke rumah Bunda sekarang ...." tuturnya lembut dengan netranya terus fokus pada jalanan.
"Apin ...." lirihnya.
Pemuda itu melirik sekilas pada Bulan seolah memintanya untuk terus mengatakan sesuatu yang tertahan di kalbunya.
"Kepala a--ku sakit ...."
Mendengar itu, Gryffin menambah kecematakan mobilnya. Rasanya benar-benar marah kepada Yollana, tapi ia tidak bisa membalas dengan apa yang dilakukan olehnya pada Bulan.
Itu sungguh keterlaluan seperti orang yang tidak memiliki perasaan. Ia meruntiki dirinya, menyesal karena membawa Bulan ke sekolah. Jika saja tadi Bulan tidak ikut dengannya mungkin sekarang akan baik-baik saja.
Karena kecepatan penuh, keempat roda mobil menggelinding cepat hingga akhirnya sampai di pekarangan rumahnya. Terlihat di depan rumahnya ada Bunda yang tengah mengurus Tamanan.
Selepas ia mematikan mesin, cepat-cepat ia keluar dari mobil. Ia berjalan dengan tergesa-gesa sembari menggendong Bulan.
Saat hendak masuk ia berteriak, "Bun! Tolong bantuin obatin Bulan!"
Bunda tentunya terkejut melihat anaknya yang membawa seorang gadis dengan penuh darah di jidatnya.
Bunda memekik kaget. "Ya Allah! Ini kenapa Fin?"
Tanaman tadi ditinggalkan begitu saja, Bunda langsung menyusul Gryffin yang tengah menuju ruang tengah. Ia mendudukkan Bulan di sofa, disusuli dengan dirinya yang duduk di sampingnya.
Tetesan keringat memenuhi leher Bulan, wajahnya tampak pucat pasi. Saat hendak ia akan mengambil sesuatu, tiba-tiba Bunda menghampirinya.
"Fin tunggu dulu ya, Bunda ngambil kotak P3k dulu," tuturnya ikut panik.
Gryffin mengangguk pelan. "Sekalian sama air anget ya, Bun," pintanya lembut.
Bunda menjawab dengan anggukan lalu ia bergegas pergi meninggalkan putranya dengan seorang gadis. Gryffin terus memandangi Bulan yang terkulai lemas di sampingnya.
Tangan Bulan bergeser dengan pelan-pelan, ingin menggapai tangan Gryffin. Pemuda itu langsung menautkan jemari-jemarinya sangat erat, bertetapan dengan tetesan air mata yang terus keluar dari mata indahnya.
"A--pin, aku ta--kut ...." gumamnya lirih, tapi masih bisa terdengar jelas oleh Gryffin.
"Ta--"
Lagi-lagi Bulan menitikan air matanya.
"Me--reka jahat, mere--ka bikin ... Aku sa--kit," sahutnya cepat, menyela ucapan Gryffin.
Mendengar itu Gryffin terasa tersayat, ia semakin merasa bersalah kembali. Kecerobohannya membuat seseorang tersakiti. Tidak lama Bunda datang membawa wadah kecil serta kotak obat.
Bunda langsung mendaratkan bokongnya setelah menyimpan wadah berisikan air di meja. Ia duduk di sebelah Bulan, jadi Bulan terhimpit oleh kedua insan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tiga Semprul & Bulan
Teen FictionGadis tanpa identitas ditemukan oleh pemuda tampan di tengah-tengah hutan dengan keadaan menangis. Gryffin terpaksa harus membawa gadis lugu itu pulang bersamanya. "Apin aku boleh ikut?" "Boleh, asal jangan bandel!" __________________________ "Ap...
