Holaaa! Ada yang nungguin cerita ini updete?
***
Menyibukkan diri merupakan cara terbaik untuk melupakan seseorang. Yang penting, tekad dalam hati untuk menghapus semua tentangnya harus kuat. Ya, meskipun ujung-ujungnya akan ada luka yang membekas di hati. Biarkan. Nanti juga akan sembuh seiring berjalannya waktu.
Sebenarnya, ada sesal yang sampai saat ini masih menemani waktu sepiku. Andai waktu itu aku enggak mengambil keputusan sepihak dan memberikan kesempatan kedua untuk Arkana. Mungkin, sekarang kami sedang menciptakan hari-hari yang mengesankan meskipun tanpa kencan.
Aku jadi teringat rencana beetemu dengan Arkana. Hampir mau sebulan, rencana itu malah menjadi cerita yang menyesakkan. Ingin bertemu Arkana itu susahnya seperti hendak menemui presiden. Harus mengatur jadwal dia yang super padat. Sekalinya dia akan meluangkan waktu, aku malah ....
Ya, ampun kenapa aku teringat dia lagi, sih? Masa-masa bersama dia itu enggak mungkin terulang lagi. Sekalipun kami kembali bersama, semuanya enggak akan sama. Ah, pokoknya, stop memikirkan Arkana! Masih banyak cowok yang lebih baik dari dia.
“Neng Raina, iki belanjaane Bude.”
Akhirnya, kegalauanku karena patah hati berakhir juga. Sekarang, saatnya kembali ke realita. Belanjaan salah sayu pelanggan sudah menumpuk di meja kasir.
“Kok, sedikit sekarang mah, Bude?” tanya Kisya setelah dia melirik belanjaan bude yang tergeletak di meja kasir.
“Iya, Neng. Sedikit-sedikit dulu. Bulan iki, Bude akeh pengeluaran,” jawabnya disertai logat medok.
“Kalo bahasa Sundanya, saeutik asal ngeureuyeuh.”
“Nah, bener. Neng Raina, maaf, bon minggu kemarin belum dibayar. Mungkin Bude bayar tiga harian lagi. Uangnya kepake anak Bude buat bayar SPP. Tapi kalau uangnya sudah ada sebelum tiga hari dari sekarang, Bude bakalan langsung bayar.”
Aku tersenyum kecil sambil menggaruk tengkuk. Bingung juga harus jawab apa jika Bang Rendra menanyakaannya. Sesekali, dia suka mengecek catatan utang para pelanggannya.
“Tapi belanja sekarang bayar, Neng, ndak ngutang.”
“Oh, ya, udah. Entar saya bilangin ke Bang Rendra.”
“Matur suwun, yo, Neng.”
Setelah bude warteg membayar belanjaannya, seorang sales rokok dan beberapa pembeli datang. Aku lekas mengecek stok saat dia tengah bersenda gurau dengan Dicko. Sekilas, stok rokok tampaknya tinggal sedikit. Untuk seminggu ke depan, kayaknya bakal kurang. Namun, kalau aku beli tanpa ngomong ke Bang Rendra dulu, nanti takut jadi masalah.
Sejenak, kulihat Dicko yang kini tengah berbicara dengan seorang bapak. Selembar kertas yang baru saja diberikan salah satu bapak berada dalam genggamannya. Akhirnya, pilihanku jatuh pada Kisya. Dia sudah selesai menimbang telur pesanan si mbak yang kini sedang memilih kue.
“Sya, panggil Bang Rendra. Bilang, ada sales rokok.”
“Aduh, aku nggak berani, Kak. Entar kalo diomelin Bang Rendra gimana?”
“Suudzon mulu lo, Sya,” celetuk Dicko seraya mengambil beberapa renceng kopi di dekatku.
“Gue cuman jaga-jaga, Dicko.” Kisya mencebikkan bibirnya.
“Ya, udah. Ko, lo yang panggil, gih. Biar gue yang lanjutin kerjaan lo sambil ngayanin yang beli.”
“Ya, elah, Kak. Nanti Bang Rendra ngamuk.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
ChickLitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
