Fakta

62 12 0
                                        

Selamat malam ....
Dear, All. Semangatin aku dengan tekan vote sama komentarnya, yak. Kalo sampe lupa baca, beuh, itu mah udah kelewatan. Wkwkwk

Sehat-sehat, ya ....
Selamat membaca.

***

"Lo di mana, Markonah? Kenapa jam segini belum balik, hah!"

Aku menjauhkan ponsel dari telinga. Suara Riyan bisa bikin telingaku berdengung. Kalau mau bertanya, padahal enggak usah teriak-teriak kayak orang kebakaran jenggot.

"Gue lagi di Bogor." Aku memelankan suara saat bicara. Takutnya orang rumah terganggu.

"Ari si Nana! Tapi maneh teu diajakan chek in ka hotel, lain?"

Pertanyaan macam apa itu? Apa pikiran Riyan sudah di-setting supaya mengarah ke hal seperti itu saja?

"Gue di Bogor di rumah mamanya Bang Rendra. Enggak ada acara cek in cek ini kayak gitu."

"Tadi pas toko mau nutup, gue ngeliat mobil Kak Djoana lewat. Itu mobil emang punya dia. Gue liat pake mata kepala sendiri."

Aku menegakkan duduk, enggak lagi bersandar pada kursi rotan. "Terus? Lo bisa ngobrol sama Kak Djo? Gimana, udah dapet-"

"Boro-boro. Lo balik kapan, Na?" tanya Riyan dengan nada galak.

"Bentar lagi. Abis makan malam. Soalnya mamanya Bang Rendra minta kita makan dulu."

"Kita? Lo doang. Gue lagi ngelus-ngelus perut roti sobek gue yang lagi dangdutan."

Aku terkikik menahan geli. Seketika, terbayang ekspresi Riyan yang lagi lapar. Belum lagi wajah masam dan rengekannya.

"Ya, udah. Gue masuk dulu. Udah dipanggil Bang Rendra buat makan malem. Bye, Babang Riyan sayaaang."

"Markonah! Lo enak-enakan di atas perut gue yang lagi kelaparan. Das-"

Suara Riyan menghilang saat aku meng-klik logo telepon berwarna merah.

***

"Bang, kenapa kita malah ke sini?"

Aku masih duduk di mobil dengan tangan membuka seatbelt. Sementara, Bang Rendra sudah turun, dan sekarang, dia sedang berdiri di salah satu jembatan layang dekat Universitas Indonesia. Melihat posisinya yang tengah menatap ke bawah, aku jadi ngeri, takut dia nekat loncat.

"Rese!"

Aku memilih turun daripada menggerutu di mobil. Kalau di mobil ada CCTV seperti di toko, bisa mampus aku. Agak ragu, kakiku melangkah mendekati Bang Rendra. Di bawah sana, enggak ada pemandangan aneh sebenarnya. Hanya ada beberapa kendaraan melintas di jalan yang akan kami lewati dan rel tanpa kereta. Selain gelap, suasananya pun mendadak horor.

"Bang?"

"Beri saya waktu untuk menenangkan diri sebentar saja."

Ya, elah, Bang! Lo pikir gue juga enggak perlu ketenangan? Perlu banget. Ini pikiran sama badan udah enggak keruan rasanya. Belum lagi entar dapet interogasi dari si Riyan.

"Omong-omong soal di rumah oma tadi pagi, saya belum minta maaf atas sambutan yang mungkin membuat kamu tidak nyaman."

Aku mengangguk, meskipun mungkin Bang Rendra enggak melihatnya. "Nyantai aja, Bang."

Notifikasi Cinta (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang