Keputusan Riyan

77 16 0
                                        

Kedatangan Bang Rendra membuat rutinitas pagi (kerja sambil menggosip) bersama Riyan, Kisya, dan Dicko terhenti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kedatangan Bang Rendra membuat rutinitas pagi (kerja sambil menggosip) bersama Riyan, Kisya, dan Dicko terhenti. Kisya bergegas berdiri dari duduknya, dia menawarkan teh hangat dan nasi kuning kepada Bang Rendra.

Aku menangkap kegelisahan dari sorot mata Kisya saat Bang Rendra enggak menjawab atau merespons tawarannya. Gadis itu pasti takut kena marah karena sarapan di jam kerja. Kami kira, Bang Rendra enggak akan ke lantai bawah. Soalnya, kalau cuaca lagi hujan kayak sekarang, dia selalu semedi di ruangannya.

“Ada yang ingin saya bicarakan dengan kalian.”

“Ko, sini dulu,” panggil Riyan. Lalu, dia menumpuk beberapa dus kopi ke gudang.

Dicko menunda pekerjaannya yang sedang merapikan ciki di rak. Bukan hanya dia saja, aku pun meletakkan beberapa slop rokok yang hendak dirapikan ke etalase. Melihat air muka Bang Rendra yang serius, sepertinya ada hal penting yang akan dia sampaikan.

“Kamu selesaikan saja sarapannya, Kisya,” kata Bang Rendra, lalu melihat pajangan kopi yang tadi dirapikan Riyan.

“Saya udah kenyang, Bang,” jawab Kisya seraya membungkus kembali nasi kuningnya.

“Begini, salah satu toko cabang saya yang berada di Lenteng Agung sedang bermasalah. Saya akan memimdahkan Riyan ke sana, sebagai pengelola toko tersebut.”

Bermasalah adalah suatu keadaan yang enggak aman untuk Riyan. Nama baiknya akan terancam. Kalau dipaksakan, aku takut hasilnya hanya akan menampar kenyataan.

Aku menatap Riyan. Rasanya, aku enggak siap kalau harus jauh darinya. Baru saja putus dari Arkana, masa Riyan harus ikut pergi juga?

Kami memang enggak pernah bisa menghindari pertikaian. Namun kalau jauh darinya, aku seperti orang linglung. Pikiranku selalu gelisah. Hatiku juga enggak pernah tenang. Aku takut dia, celaka, enggak makan, disakiti orang, atau lain sebagainya.

“Bagaimana?”

Aku menggeleng, enggak memberikan izin kalau Riyan harus bekerja di sana. Bukankah bekerja di sini atau di sana sama saja? Masing-masing tempat akan mempunyai perbedaan. Mau sedikit, mau banyak.

“Maaf sebelumnya, Bang. Saya belum punya pengalaman dan wawasan yang luas. Saya juga takut gagal.”

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Aku bisa menangkap enggak tertarik pada wajah Riyan. Semoga saja, aku enggak salah lihat dan menilai.

“Wawasan luas dan pengalaman yang banyak tidak akan datang kepada mereka yang enggan mencoba hal baru. Segala sesuatu itu tergantung pada niat dan keyakinan. Kalau kita takut gagal terus, kapan kesuksesan bisa kita raih?”

Notifikasi Cinta (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang