Ada Bayangmu

58 12 0
                                        

Hai, apa kabar? Selamat Tahun Baru Hijriyah, ya. Jangan lupa do'a terbaiknya. Kita buka lembaran baru. Semoga di tahun ini, kehidupan kita semakin lebih baik. Apa yang diharapkan, dikabulkan Tuhan. Ikhtiar, berdo'a, dan jangan lupa sholawatnya. ❤ Supaya do'a kita bisa menembus langit.

Oh, iya, ada satu pengumuman penting. Judulnya aku ganti, ya. Tokoh Narendranya juga.
Happy reading. 😘


***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

“Na, please ... kasih aku satu kesempatan lagi.”

Pergerakan tanganku yang hendak membuka seatbelt terhenti. Aku lekas menarik napas, lalu mengembuskannya dengan pelan. Sedari tadi, aku memang menunggu kalimat seperti itu diucapkan Arkana.

“Maaf, Ar, aku enggak bisa.”

Aku mencoba tersenyum hangat, meskipun kalimat penolakan barusan terasa menohok dan menyengat. Aku hanya ingin tahu usahanya saat memperjuangkan seseorang yang katanya sangat dicinta. Karena selama nomornya kublokir, dia enggak pernah menghubungiku lagi.

“Aku kira, masih ada kesempatan kedua, Na.”

Aku bahkan masih berharap kesempatan kedua itu akan tiba, tapi jangan sekarang.

“Jujur, aku berat ngelepas kamu. Aku nyesel karena udah nyia-nyiain waktu selama kita bareng. Tapi aku sadar, perasaan nggak bisa dipaksain.”

Aku terdiam. Kedua kelopak mata segera kubuka lebar-lebar saat mata terasa memanas. Enggak! Aku enggak boleh menangis di depannya.

“Ya, udah, aku ....” Aku mengarahkan ibu jari ke arah gerbang. Lalu, kulepas seatbelt dengan segera. Jawaban Arkana bikin hatiku mencelus.

“Maaf, aku udah ngerepotin,” kataku setelah turun dari mobil.

“Nggak masalah. Aku seneng, kok.”

“Makasih, Ar.”

Arkana tersenyum. Senyuman yang selalu bikin aku kangen setengah mati.

“Makasih buat apaan, hem?”

Buat semua kenangan yang sudah kamu beri yang susah buat dilupakan. Buat ajakan balikan yang aku harap bisa terdengar lagi. “Buat tumpangannya.”

“Oke. Ya, meskipun awalnya ada yang malu-malu kucing.”

Aku langsung mengalihkan pandangan ketika Arkana menatapku sambil tersenyum. Senyuman itu entah senyuman menggoda atau senyuman mengejek.

“Ya, udah. Aku pulang dulu, ya. Mau mampir, udah malem. Terus yang dianter nggak nawarin.”

“Udah, sana,” tolakku.

Notifikasi Cinta (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang