For you. 😍
***
Aku terpana saat melihat konsep dekorasi pernikahan kedua mempelai yang terlihat mewah. Mereka mengambil tema indoor. Tiang-tiang dilapisi kain berwarna putih ivory. Ada bunga peony, tulip, rose dan jenis lainnya yang ditata indah dan rapi di setiap guci. Lampu-lampu besar, pita, dan bunga menghiasi atap. Dedaunan hijau yang memanjang menambah kesan fresh. Belum lagi puluhan entah ratusan kursi dihias dengan kain dan pita berwarna merah. Bahkan, ada tall vases juga yang membuat nuansa di sini terasa lebih romantis. Perpaduan banyak warna cerah tersebut enggak terlihat berantakan. A classic romance theme for lovebirds.
Saat ini, aku merasa datang ke kebun bunga. Andai saja enggak ada Bang Rendra di sini. Mungkin, aku bisa menikmati malam ini dengan berfoto seperti beberapa tamu lainnya di photo booth. Siapa tahu bisa bertemu jodoh di sana.
Nanti, kalau aku menikah dan punya banyak uang, mau pakai konsep pernikahan seperti ini, ah. Kira-kira, temanya bagus indoor atau outdoor, ya? Di hotel bintang lima kayaknya asyik. Eh, tapi di pantai jauh lebih keren. Udaranya lebih segar daripada indoor.
Ya, ampun! Ini khayalan tinggi amat. Rumah saja enggak punya, pekerjaan belum dapat, tapi berharap boleh kali?
“Bang?”
Bang Rendra hanya bergumam, tanpa menjawab panggilanku, apalagi menoleh.
“Bang, fotoin saya di sana, dong. Nanti kalo Abang mau difoto, saya yang fotoin. Mau, ya?”
Aku mengguncang pelan tangan Bang Rendra ketika melihat photo booth lagi. Namun sejurus kemudian, aku memilih diam karena Bang Rendra enggak merespons cepat. Lelet. Selain itu, kok, aku mirip cewek yang lagi merajuk kepada pacarnya, ya?
“Lihat sini.”
Bagai kerbau dicocoki hidungnya, aku menoleh. Tepat saat itu juga, blitz di ponsel Bang Rendra menyala. Aku speechless. Sepersekian detik berlalu, aku segera tersadar, dan meraih ponsel Bang Rendra yang sudah diangkat tinggi oleh tangan kanannya.
“Bang, foto yang itu hapus. Ambil yang baru aja. Duh, masa difoto di sini. Backgroundnya enggak banget.”
Alasanku mau difoto itu karena spot fotonya bagus banget. Ada kursi single berwarna putih ivory dengan sandaran tinggi, mirip tempat duduk sang ratu. Di sana juga ada rangkaian bunga tulip putih yang dikombinasikan dengan bunga mawar merah. Kedua bunga itu ditata dalam guci yang warnanya senada dengan kursi.
Di sebelahnya, ada panggung kecil yang terbuat dari kayu. Rumput merambat menjadi backgroundnya. Sementara ada sebuah lingkaran yang dihiasi dengan bunga kecil beraneka jenis dan warna. Banyak muda-mudi yang tengah berfoto di sana. Cantik banget. Aku mau difoto di sana juga.
Selain karena jatuh cinta dengan photo booth yang super keren, aku khawatir kalau hasil jepretan kamera Bang Rendra jelek. Maksudnya, ekspresiku akan memalukan kalau dilihat orang lain. Ini enggak boleh terjadi, bagaimanapun caranya, foto itu harus dihapus.
“Ya, sudah, tinggal difoto lagi saja.”
“Tapi foto itu hapus dulu.”
Bang Rendra malah memasukkan ponselnya ke saku celana. Skakmat ini, mah! Masa aku grepe-grepe Bang Rendra di tempat ramai, sih? Enggak etis banget. Eh, tapi kalau di tempat sepi pun aku enggak berani.
Bang Rendra lagi, main foto saja. Seharusnya, dia kasih tahu aku terlebih dulu kalau kami mau berfoto. Dengan begitu, moodku yang semula bagus, enggak akan kacau seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
ChickLitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
