Hai! Budayakan vote, yak! 🤗 Biar aku semangat nulisnya. 😀
***
Setelah lelah dengan drama di siang ini, mulai dari menangis, meyakinkan Riyan, dan menggoreng dua sisir pisang uli bersama Mama, kami berkumpul di ruang tamu. Aku dan Raya—adik beda ayah yang usianya enam tahun di bawahku—sedang menertawakan si bungsu bernama Kanaya yang tengah asyik berceloteh. Aku enggak masalah dengan kosakatanya yang kadang enggak dipahami sepenuhnya, di sini kan ada Raya. Dia bisa men-translate kata-kata Kanaya.
“Kakak Ina, mu bobo di cini?”
Aku menggeleng pelan ketika Kanaya bertanya, ‘Kakak Raina, mau bobo di sini?’. Pertanyaannya kali ini bisa aku pahami. Enggak seperti pertanyaan-pertanyaan sebelumnya.
Sejurus kemudian, Kanaya mengerucutkan bibir kecilnya. Kedua tangan mungil itu ditumpuk satu sama lain dengan punggung tangan di bagian atas. Lalu, Kanaya mengayun-ayun pelan tangannya.
Lucu.
Aku tertawa melihat mata Kanaya yang mulai berkaca-kaca. Aku bergegas meraih tubuh Kanaya, lalu mendekapnya dengan penuh sayang. Dari pertama kali melihat, aku langsung menyukainya, pun terhadap Raya.
“Ma, si Naya mau nangis, tuh!” teriak Raya.
“Yaya nggak nangis! Yaya mu Kak Ina bobo di cini.”
Aku melepas pelukan terhadap Kanaya, lalu memegang kedua pipi cabinya supaya mendongak padaku. “Iya. Tapi kalo Kakak enggak bobo di sini, Naya jangan nangis, ya? Kan, Kakak harus kerja. Supaya kita bisa punya rumah princess, terus tinggal bareng, deh. Gimana, mau enggak?”
Kanaya mengangguk antusias.
“Yaya mu kamel walna ping, ya, Kak.”
“Banyak maunya, ih. Naya main lagi sama Kak Raya sini.”
“Nggak mu! Kak Laya malah-malah telus.”
Aku dan Kak Djoana tertawa. Sejurus kemudian, Kak Djoana menggerakkan dagunya ke arah kursi. Di mana di sana ada Riyan yang sedang merebahkan kepala pada paha Mama.
“Ce ileh, giliran tadi aja ngamuk-ngamuk. Sekarang, minta dimanja-manja. Sehat lo, Jang?”
“Apa si, lo, Kak? Syirik mulu kayaknya kalo liat gue seneng.”
Hatiku menghangat saat melihat Mama tersenyum kecil. Aku merasa hari ini seperti sedang bermimpi. Bisa bertemu Mama dan berkumpul dengan keluarga baru. Ya, meskipun hanya sebentar, tapi seenggaknya, aku bisa ke sini kapan pun.
“Eh, Nana, lo udah minta restu sama Mama belom?”
Aku menggeleng pelan.
“Restu apa, Sayang?” tanya Mama seraya mengernyit.
Riyan beranjak bangun. Dia merentangkan tangan, menyambut Kanaya yang berlari, dan berhambur dalam pelukannya.
Aku menggaruk-garuk kepala bagian belakang. Rasanya kali ini aku membutuhkan Bang Rendra. Mungkin karena sudah lama enggak bertemu Mama, aku jadi merasa canggung. Di hati juga jadi tumbuh rasa malu.
“Anu, Ma.”
“Anu-anu. Lo kalo ngomong yang jelas, Raina,” sembur Kak Djoana, tampak gereget.
“Nana, Nana ... ada yang ngajakin nikah ke Nana.”
Mama beranjak bangun. Beliau mengayunkan langkah menghampiriku. Senyum di wajahnya enggak lepas barang sedetik pun.
“Kamu serius, Nak?”
Aku mengangguk pelan.
“Mama restuin, selagi laki-laki itu baik dan sayang sama kamu. Mama mau dikenalin sama calon menantu Mama.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
ChickLitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
