Updatenya mepet-mepet. Tapi ada yang nungguin kan?
***
Hari ini, aku, Riyan, dan Kak Djoana sedang dalam perjalanan mencari alamat rumah Mama. Semoga saja pencarian kali ini berhasil. Enggak seperti pencarian beberapa waktu lalu, di mana rumah petak yang kata Kak Djoana ditinggali Mama malah kosong enggak berpenghuni.
Bang Rendra enggak ikut karena sedang membantu Tante Lusi menata kedai. Kedai itu nantinya akan dikelola oleh beliau dan dibantu Tante Rima untuk beberapa waktu.
Seminggu terakhir itu juga, aku dan Riyan membantu Tante Lusi belanja perlengkapan dapur seperti barang-barang, bahan-bahan, dan lain sebagainya. Makanya, pencarian Mama terus-terusan tertunda. Kalau kendalanya bukan di aku dan Riyan, pasti di Kak Djoana.
“Jadi, setelah kita ketemu sama mama, lo sama si bos mau kawin, Na?”
“Nikah!” Aku meralat kosakata Riyan yang enggak enak didengar.
“Sama aja,” kilahnya.
“Beda.”
“Ka-kamu udah yakin, Na?”
Aku menoleh, menatap Kak Djoana yang sedang mengemudikan mobil. Aku perhatikan, akhir-akhir ini setiap kami membahas hubunganku dengan Bang Rendra, bicaranya selalu tergagap-gagap. Kesan yang kutangkap, Kak Djoana seperti enggak setuju kalau aku akan menjadi keponakannya.
“Oit, ditanya malah bengong. Kak Djo nanya, katanya lo udah yakin sama si bos?”
Ditanya yakin atau enggak, sebenarnya aku .... “Insya Allah.”
“Pikirin secara mateng, Na. Biar si bos gak jadi pelampiasan amarah lo karna si Arkana kawin duluan.”
Aku berdecak, lalu menatap Riyan yang tengah merebahkan diri di kursi tengah. “Gue lebih tau perasaan gue sendiri dan lo stop bersikap sok tau.”
“Sebagai—”
“Jangan ngusik mood booster gue di hari ini, deh, Yan,” potongku cepat.
Usai perdebatan di mobil waktu itu, aku memang langsung menerima Bang Rendra. Ada perasaan enggak mau jauh darinya saat mulutku hendak menolak. Entah mengapa, hatiku yakin kalau pilihan yang diambil ini merupakan pilihan terbaik.
Aku sadar, kalau bayang-bayang Arkana belum hilang sepenuhnya. Namun, semua itu enggak akan menjadi penghalang untuk menutup hati dari cowok yang punya itikad baik. Apalagi saat mengingat perjuangan panjang Bang Rendra untuk mendapatkanku, pasti lelah dan membosankan.
Dari segi perhatian, Bang Rendra memang lebih perhatian dibanding Arkana. Ya, meskipun sikapnya masih kaku, enggak seenjoy sang mantan. Cara bicaranya pun masih formal. Terkadang, aku merasa seperti calon partner bisnisnya, bukan calon istrinya. Namun, mungkin seperti itulah karakter Bang Rendra, atau bisa jadi karena aku belum bisa menyelami hatinya.
“Eh, gue kayak nggak asing sama mobil merah itu, deh,” kata Kak Djoana, “gue perhatiin, itu mobil ngikutin kita terus.”
Aku menatap ke belakang. Begitupun dengan Riyan yang beranjak dari tidurnya.
“Heleh! Mobil kayak gitu banyak kali, Kak,” ucap Riyan, lalu kembali tidur.
“Kak, aku jadi inget kejadian waktu aku ngejar mobil Kakak sama Bang Rendra. Katanya—”
“Buset, Kak! Pelan-pelan napa! Gue hampir jatoh,” sela Riyan saat Kak Djoana tancap gas.
“Nah, gue ngebut, itu mobil ikutan ngebut juga. Lo berdua punya musuh nggak?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
Genç Kız EdebiyatıJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
