Minggu mendung di langit Purwakarta. Tapi nggak papa, Raina tetep update, kok. Semoga suka, ya. 😘
Selamat membaca. Baca do'a dulu. 😂
***
Mencintai itu lelah. Apalagi kalau perasaannya bertepuk sebelah tangan. Aku harus bisa menekan hati agar enggak terluka. Toh, ini jalan takdir yang sudah kuambil.
Sepemahamanku, cinta itu saling menutupi kekurangan pasangannya dengan kelebihan yang kita miliki. Namun, aku dan Arkana ....
Aku jadi ingat lagu band 'Fife Minutes' yang berjudul ‘Semakin Kukejar Semakin kau Jauh’. Liriknya mirip sekali dengan hubunganku saat masih berpacaran dengan Arkana. Aku terus menuntutnya untuk meluangkan waktu, tapi dia berperilaku sesukanya dengan terus menjauh. Alasan sibuk ini, sibuk itu, nyatanya bullshit! Buktinya selepas putus, dia malah langsung tunangan.
“Arkana semprul!” makiku entah pada siapa. Mau kesal sama Arkana, tapi dia enggak ada di sini. Riyan apalagi, dia lagi di toko.
Seharusnya, enggak ada yang salah dalam cinta. Sebab, yang salah itu hati yang enggak bisa menikmati dan mensyukuri rasa. Kayak hatiku yang enggak bisa diginiin oleh Arkana. Dia enggak tahu perjuangan beratku. Aku mati-matian supaya enggak cemburu saat melihat fotonya saat menyenatkan cincin di jari manis seorang cewek yang di-share teman seangkatan di grup alumni.
Perih! Sakit! Aku belum rela kalau Arkana berpaling ke lain hati secepat itu. Seharusnya, dia mengejarku sekali lagi. Menyentuh hatiku dengan perhatian-perhatian kecil sebelum kami pacaran atau bahkan tunangan.
Seketika, aku merasa keadaanku sangat menyedihkan. Aku terpuruk dalam rasa yang aku ciptakan. Aku belum bisa move on seperti Arkana yang sedang tersenyum di samping tunangannya.
Benar kata Riyan dan Bang Rendra. Sejatinya, mencintai seseorang itu enggak butuh alasan. Karena sebanyak apa pun kekurangan orang yang kita cinta, kekurangan itu akan menghilang dalam sekejap mata.
Sepertinya ... aku memang masih mencintai
Arkana.
***
Pasca kabar pertunangan Arkana, aku menghabiskan banyak waktu di luar indekos. Aku melampiaskan cemburu, sesal, dan patah hati di dada dengan memakan menu-menu pedas yang memanjakan lidah. Kalau enggak begitu, pikiranku melayang ke mana-mana.
Akhirnya, di sinilah aku, terkapar di tempat tidur, dengan selimut tebal menutupi seluruh tubuh, kecuali kepala. Sepertinya, lambungku bermasalah. Sakit dan perihnya bukan cuman di hati, tapi di perut juga. Kalau badan bergerak, rasanya sakit luar biasa. Perutku seperti diperas di waktu-waktu tertentu.
Sialnya, besok ada panggilan interview dari salah satu pabrik garments. Kalau kondisiku kayak begini, pekerjaan itu calon lolos dari genggaman. Padahal, aku sudah lama menunggunya. Sembuh, dong, badan. Aku ingin punya kesibukan lain lagi supaya bisa membuang kenangan bersama si mantan.
Kulirik jam kecil yang menggantung di dinding. Entah mengapa, rasa dingin semakin menusuk tulang. Sakit di kepala juga belum menghilang, padahal tadi sudah diberi obat pereda nyeri.
Tadi, saat kukirimi Riyan pesan berisi supaya dia cepat pulang, dia jawab ada keperluan sebentar. Akhirnya, aku meminta Kisya saja yang ke sini. Aku enggak kuat, ingin segera dikerik. Namun, salah satu di antara keduanya belum ada yang datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
Chick-LitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
