Dear, Mama

64 9 0
                                        

“Sebesar apa pun kesalahan orang tua kita di masa lalu, kita nggak berhak menghapus kebaikan yang pernah mereka berikan. Sebanyak apa pun kejelekan mereka, mereka tetap orang tua kita. Kita nggak berhak menanam kebencian terhadap mereka dengan dalih semua itu hukuman dari Tuhan.”

Djoana Ardhisa

***

Bukannya menghampiri, Riyan malah mengepalkan telapak tangan. Wajahnya dingin. Enggak ada pancaran kebahagiaan seperti sebelum bertemu dengan Mama; yang ada hanya tatapan kebencian.

“Yan?” panggilku saat melihat pergerakannya yang mencurigakan.

Tanpa kata, Riyan membalikkan badan. Dia berlalu begitu saja, mengabaikan Mama yang mematung sambil terisak. Riyan tampak enggak peduli saat Mama terus-terusan memanggil namanya.

Aku bergegas mengejar langkah Riyan. Sesekali, kuseka air mata yang menghalangi pandangan. Masa bodoh dengan tatapan tanya, bingung, dan lain sebagainya dari orang-orang. Yang aku mau, Riyan kembali.

“Riyan, mau lo apa, sih?” tanyaku setelah berhasil menghadang langkahnya.

“Gue mau balik. Minggir, Na.”

“Yan, mama udah kita temuin, dan lo sia-siain momen yang selama ini kita tunggu-tunggu?”

Kutatap Mama dan Kak Djoana yang ternyata sudah berdiri beberapa langkah di belakang Riyan. Mama hendak mengayunkan langkahnya, tapi Kak Djoana menahan. Mungkin, Kak Djoana menunggu suasana yang tepat dulu.

“Yan, please. Kita udah berusaha sejauh ini supaya bisa ketemu mama, dan setelah apa yang kita perjuangin berhasil, lo malah mundur? Banci!” caciku.

“Gue gak kenal wanita itu!” bentak Riyan, “mama udah mati, Na. Mama udah mati semenjak kita dibuang!”

Satu tamparan mendarat di pipi kanan Riyan. Pelakunya adalah Kak Djoana. Dia menghampiri kami saat Riyan menyatakan kalau dia enggak kenal Mama.

“Sebesar apa pun kesalahan orang tua kita di masa lalu, kita nggak berhak menghapus kebaikan yang pernah mereka berikan. Sebanyak apa pun kejelekan mereka, mereka tetap orang tua kita. Kita nggak berhak menanam kebencian terhadap mereka dengan dalih semua itu hukuman dari Tuhan.”

“Halah! Lo gak tau gimana rasanya dibuang saat peran mama dibutuhin, Kak. Lo gak tau itu, Kak, karena lo gak pernah berada di posisi gue.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Riyan meneteskan air mata. Bahkan, matanya memerah dengan hidung kembang-kempis. Riyan yang kukira kuat, ternyata hatinya enggak sekuat itu. Kini, aku paham, sifatnya yang ceria dan menjengkelkan hanya untuk menutupi luka dari masa lalu.

“Riyan, kasih Mama kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Nak.” Suara Mama bergetar. Kedua matanya sudah bengkak, mungkin sama seperti mataku.

“Penjelasan seperti apa? Berupa beberapa alasan untuk berkilah? Dan mama siapa yang Anda maksud?”

“Anda?” gumamku di tengah-tengah isak.

Kalau boleh jujur, aku juga memang benci pada Mama karena beliau seolah-olah enggak akan membutuhkan kami, pun sebaliknya. Namun, rasa benci itu kalah seiring berjalannya waktu. Rindu yang bertahun-tahun kukubur secara paksa, memang menghadirkan berbagai macam luka. Namun, luka itu telah sembuh semenjak aku bisa melihat Mama. Rindu itu terobati temu.

“Riyan, Mama mohon, dengarkan dulu, Nak. tolong, maafkan Mama.”

“Maaf? Mendengarkan penjelasan seperti apa yang Anda maksud? Selama ini, Anda ke mana aja? Anda gak pernah nengokin aku dan Nana. Anda masih ingat saat Anda mengabaikan kami saat kami berlari menerobos hujan supaya bisa menahan kepergian Anda? Anda meninggalkan ayah yang sedang sakit keras, demi laki-laki lain, dan sekarang, Anda hidup bahagia bersama keluarga baru Anda, tanpa memikirkan kedua anak dari mantan suami Anda.”

Notifikasi Cinta (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang