Hai, selamat malam minggu. Khusus malam ini, insya Allah aku double update. Jangan lupa klik vote dan komen, ya. ❤❤❤
“Jadi, gimana, Baby? Mau melanjutkan kisah kita yang indah, atau kamu kehilangan aset berharga hasil jerih payahmu selama ini?”
Rasanya aku gemas bukan main saat mendengar pilihan yang diberikan Mbak Vivi kepada Bang Rendra. Di sini, entah siapa yang patut disalahkan. Orang tua Bang Rendra (pihak pertama) yang berutang kepada orang tua Mbak Vivi (pihak kedua). Lalu, pihak kedua yang katanya memberikan keringanan kepada pihak pertama, yaitu dengan menjodohkan keduanya. Maka, utang pihak pertama akan dianggap lunas, entah berkurang, entah bagaimana.
Namun, Bang Rendra mengambil keputusan kalau dia akan memutuskan pertunangannya. Aku jadi ikut terlibat karena dijadikan salah satu alasan batalnya pertunangan mereka. Lalu, siapa yang harus disalahkan di sini? Orang tua Bang Rendra yang berutang? Orang tua Mbak Vivi yang dikalahkan oleh rasa sayang terhadap sang anak? Maksudku, mereka enggak bisa tegas, dan malah melibatkan anak ke dalam urusan orang tua. Mbak Vivi yang memanfaatkan keadaan? Atau Bang Rendra yang awalnya pasrah, tapi berontak di tengah jalan? Kalau aku, sih, enggak ada kesalahan apa pun. Mungkin.
“Gimana, Sayang?”
Dengan enggak sopannya, Mbak Vivi duduk di meja kerja. Jemari lentik yang kukunya dicat merah itu mencolek dagu Bang Rendra. Namun, si empunya langsung menepis tangan Mbak Vivi. Lalu, mengikis jarak di antara mereka.
“Aku bukan seekor anjing yang menjilat ludahnya sendiri.”
“Maksud kamu, Ndra?” Mbak Vivi beranjak duduk. Tatapannya terhadap Bang Rendra mendadak tajam.
“Aku akan menjual toko-tokoku untuk melunasi utang papa.”
“Baik. Tapi kamu nggak perlu menjual semuanya. Kamu cukup kasih toko ini beserta tanahnya ... lalu aku akan ngomong ke Papa supaya utang piutang papa kamu dianggap lunas.”
***
Bagaimana bisa Mbak Vivi mengajukan permintaan yang Bang Rendra saja enggak memilikinya. Aku, Riyan, dan mungkin kedua bocah itu pun tahu kalau tanah di kedua toko bukanlah milik Bang Rendra. Dia hanya menyewa bangunan dan tanahnya saja dengan membayar sewa setahun sekali.
“Bang, pikirin baik-baik. Jangan sampe entarnya Abang nyesel.”
“Keputusan yang saya ambil sudah bulat.”
Baiklah. Keputusan itu hak Bang Rendra. Mungkin, dia sudah tahu dampak baik dan buruknya dari solusi yang akan diambil.
Aku menyeruput taro latte yang dipesankan Bang Rendra. Tadinya, aku ingin memesan espresso saja, tapi dilarang Bang Rendra karena ada kafeinnya. Padahal, lambungku sudah sehat seperti sediakala.
“Kamu bisa bantu saya lagi?”
“Ba-bantu apa, Bang?”
Tubuhku menegang saat Bang Rendra menghapus jarak di antara kami. Kami sudah duduk berdekatan. Saat aku perhatikan, dia menyapu pandangan ke sekitar kafe, tampak sedang memantau keadaan.
Perlahan, Bang Rendra mendekatkan wajahnya. Aku ingin menjauh, tapi tubuh sulit sekali dikendalikan. Hingga jarak wajah kami tinggal beberapa sentimeter saja, aku buru-buru menutup mata. Lalu, kedua mataku langsung terbuka lebar saat mendengar Bang Rendra berbisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
ChickLitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
