Love is one of those dangerous flavors. Loving can hurt sometimes.
Kalimat yang kukarang barusan itu memang benar. Cinta itu berbahaya. Kalau enggak menjadi candu, ya, menjadi racun. Seperti perasaanku saat ini contohnya. Saking kecanduannya dengan cinta, aku sampai tersengat racunnya, dan enggak bisa mengontrol perasaan.
Seminggu setelah Arkana menikah, aku jarang memainkan ponsel. Rasanya malas sekali. Enggak ada hal yang menarik perhatian selain mengingat masa lalu kami.
Rasanya, aku masih setengah hati melepaskan Arkana. Aku ingin marah, tapi sama siapa? Emosiku semakin memuncak saat teringat apakah Arkana sudah melupakanku dan sudah mencintai istrinya?
Argh! Bisa depresi aku kalau seperti ini terus.
“Assalamu'alaikum? Raina?”
Perhatianku teralihkan pada pintu yang diketuk dari luar. Aku bergegas membukakan pintu. Lalu, Kak Djoana sedang berdiri di teras indekos sambil tersenyum lebar.
“Kak Djo! Kangen.”
Aku menghambur dalam pelukannya. Rasa menyebalkan yang sedari tadi menguasai hati terasa terbang diempas oleh kebahagiaan atas datangnyan Kak Djoana.
“Lebai kamu.”
Pelukan pun terlepas. Kak Djoana segera melepas ikatan sepatunya. Aku pun membuka pintu indekos lebar-lebar, lalu mengajaknya masuk.
“Kakak, kok, tau kosanku? Si Riyan yang kasih tau?”
“Bukan.”
Aku mengernyit. “Terus?”
“Noh!”
Kak Djoana menggerakkan dagunya ke arah gerbang. Di sana, mobil yang seminggu lamanya enggak kulihat terparkir di dekat gerbang. Pemiliknya belum turun, atau bahkan enggak bakalan turun.
“Ajakin ke sini, sono. Aku pengen rebahan bentar sebelum kita nyari Tante Widy.”
Aku mengangguk ragu.
Setelah Kak Djoana masuk, aku menghampiri Bang Rendra yang tampaknya masih berada di dalam mobil. Kaca mobilnya gelap, sih. Enggak kelihatan.
Sesampainya di sana, aku mengetuk pelan kaca mobil Bang Rendra. “Bang?”
Kaca mobil pun terbuka. Bang Rendra memintaku masuk ke mobil. Katanya, ada yang ingin dia bicarakan sebentar, dan ini menyangkut rahasia kami berdua.
“Ada apa, Bang?” tanyaku setelah duduk manis di mobil.
“Bisa bicara empat mata?”
“Lah, di sini, kan, enggak ada siapa-siapa lagi, Bang.”
“Tapi ada Dhisa.”
Dhisa?
“Djoana,” jelas Bang Rendra mengingatkan kalau dia memanggil Kak Djoana “Dhisa’, bukan “Djoana”.
Aku mengangguk dua kali. “Oke. Kebetulan, saya juga mau ngomong. Sedikit, sih.”
Bang Rendra menyalakan mesin mobil. Kami pun meninggalkan indekos, mencari jalanan yang agak sepi. Kalau sampai ada yang mendengarkan pembicaraan kami, bisa repot.
***
“Bang, ini. Makasih banyak, ya, udah bantu ekonomi saya selama ini.”
Aku memberikan cincin pemberian omanya saat mobil menepi di bawah pohon besar. Rasanya, sekarang adalah hari yang tepat untuk memberikan cincin tersebut. Aku takut hilang dan lagi cincin itu bukan milikku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
Chick-LitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
