Sesampainya di kediaman oma Bang Rendra, aku mengedarkan pandangan. Di ruang tamu yang terbilang luas ini, enggak ada sebingkai foto keluarga pun. Bangunan rumah ini juga sederhana sekali, sangat jauh dari ekspetasiku yang megah, mewah, seperti di drama-drama yang pernah ditonton. Kursi yang kami duduki kayunya seperti terbuat dari kayu jati. Ukiran bunga pada setiap kayunya membah kesan manis. Di setiap pojok juga terdapat guci yang di atasnya diberi bunga hiasan. Cantik dan asri.
Jamuan yang tersaji di meja pun merupakan jamuan yang biasa kumakan. Ada beberapa gelas kopi, beberapa cangkir teh, air mineral kemasan botol, dan aneka kue basah. Saat ditanya papa Bang Rendra, asisten oma Bang Rendra menjawab kalau beliau sengaja membeli aneka kue itu karena tahu keluarga Bang Rendra akan datang berkunjung.
Suara dehaman oma Bang Rendra seakan menamparku supaya kembali ke realita. Sumpah! Aku enggak berani membalas tatapan beliau. Mengintimidasi banget. Sikap dinginnya bikin pikiran blank. Enggak beda jauh dengan perasaanku dulu saat berhadapan dengan cucunya.
Selain itu, aku juga dibikin nervous karena di ruang tamu sebesar ini enggak cuman ada kami bertiga. Namun, ada Mbak Vivi. Katanya, kedatangannya enggak lama setelah kedua orang tua Bang Rendra tiba di sini.
Bang Rendra mengangkat tanganku dan menyimpan di pahanya. Dia mengeratkan genggaman pada tanganku. Sedari akan memasuki rumah omanya, dia memang memintaku supaya jangan melepaskan pegangan tangan. Katanya, supaya bisa meyakinkan.
Bang Rendra sama sekali enggak peduli dengan jantungku yang berdebar kencang. Ini pertama kalinya aku diperlakukan sedemikian manis oleh cowok selain Riyan. Arkana? Ah, mana pernah dia seperti ini. Pernah bertemu saat masih pacaran saja, baru beberapa menit bertatap muka, dia berhasil bikin emosiku terbakar. Entah itu karena dia yang kurang peka, atau karena perdebatan masalah sepele yang berakhir sengit.
Ah, stop memikirkan Arkana, Raina!
“Jangan tegang,” bisik Bang Rendra seraya mengusap pelan ibu jariku yang masih digenggamnya.
Bulu romaku merinding saat terpaan napasnya terasa hangat di sekitar telinga dan leher samping. Jawabanku tentu hanya mengangguk. Rileks, meskipun sebenarnya aku enggak nyaman dengan posisi duduk kami. Aku dan Bang Rendra duduk di satu kursi pendek, tapi cukup untuk dipakai berdua.
Berbeda dengan oma Bang Rendra yang duduk di kursi single. Mbak Vivi duduk di kursi panjang, bersama orang tua Bang Rendra. Namun, mama Bang Rendra duduk di bagian tengah, menjadi penyekat antara Mbak Vivi dan suaminya.
Setelah semalam dilanda kebingungan, aku memilih Bang Rendra saja. Soal Arkana, biar dia menjadi masa laluku saja. Bukankah kalau jodoh enggak akan ke mana? Sekalipun Arkana jauh dari samudera Hindia, dia akan kembali pada pemilik hatinya. Entah itu aku atau cewek beruntung di luar sana.
“Rendra, Vivi, Raina, diminum dulu tehnya.”
“Iya, Tante,” jawabku sambil tersenyum kecil.
Aku harus melawan rasa takut yang menyergap hati. Papa dan oma Bang Rendra orang baik. Hanya mungkin, karakternya saja dingin, dan mahal senyum juga.
Aku enggak sengaja melihat bibir Mbak Vivi terkatup kembali. Dia langsung membuang pandangan. Lalu, meneguk air mineral yang terhidang di meja.
“Kamu kerja di mana, Raina?” tanya papa Bang Rendra, mulai menginterogasiku sepertinya.
“Sa—”
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
ChickLitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
