Senam Jantung

113 19 0
                                        

Hai, hai! Raina update di siang bolong. Moga pada suka, ya. Met baca juga. Hihiii

Mataku mengedar ke sekitar meja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mataku mengedar ke sekitar meja. Faktur produk kosmetik best seller di hari Selasa sebelum izin cuti belum ketemu juga. Perasaan, waktu itu disimpan di dekat tumpukan buku pengeluaran harian. Aduh, harus kucari ke mana lagi?

Gawat!

Masalah sewaktu di bus saja belum selesai, malah penyelesaiannya belum dimulai. Eh, sekarang datang lagi masalah baru. Cari mati memang. Seketika, terbayang tatapan horor Bang Rendra saat mendengar alasanku menambah cuti kerja, ditambah hilangnya faktur Indo Kosmetik.

Teringat nama Bang Rendra saja sudah membuat bulu kudukku meremang. Di depannya, aku bernapas pun seperti salah. Terus jangankan mendengar suaranya saat marah-marah, melihat dia membuka mulut hendak bicara saja, jantungku berdebar enggak keruan. Dia itu kayak mau mengeluarkan suara yang menakutkan.

Toko yang merangkap semi agen ini dijual secara tiba-tiba, entah karena apa. Namun, masih ada keuntungan yang diperoleh. Aku bisa bertahan bekerja di sini setelah Bang Rendra mengadakan pengurangan karyawan. Hanya ada tiga karyawan yang dipilih Bang Rendra, itu pun atas rekomendasi mantan bosku; aku, Riyan, dan ada satu lagi, tapi dia memilih resign karena setiap hari, kami harus makan hati. Untung saja, aku bisa bertahan meskipun bekerja di toko ini belum genap satu tahun.

Makanya, aku itu lebih suka bekerja dengan pemilik toko sembako yang lama. Beliau ramah, baik, enggak kejam seperti Bang Rendra. Bagian kasir, cek ini itu, antar belanjaan, dan lain sebagainya sudah ada yang pegang. Lah, ini? Aku dan Riyan harus hendel keseluruhan karena aturan Bang Renda enggak boleh dilanggar. Terkadang, kedua bawahanku yang baru bekerja dua bulan apa-apanya harus disuruh-suruh. Terkadang, bikin emosi meningkat saja.

Di setiap harinya, ada saja pekerjaan tambahan. Seperti menata kembali barang-barang, mengubah posisi etalase, atau lain sebagainya. Kalau mau menuruti ego, aku juga ingin resign. Siapa yang akan tahan bekerja dengan bos perhitungan, arogan, pintar bikin aturan mendadak, tapi kerjanya malas-malasan, main ponsel terus. Giliran kami ingin main ponsel di waktu senggang, pasti langsung diberi pekerjaan dadakan. Apa pun yang kami kerjakan seperti biasanya, selalu salah di mata Bang Rendra.

Belum lagi aturan yang lainnya, dia ubah secara keseluruhan. Seharusnya, aku, Riyan, Kisya, dan Dicko mulai bekerja pukul 08.00 WIB. Lah, sekarang? Paling telat jam tujuh harus sudah stay di toko. Pulang yang biasa pukul 17.00 WIB, sekarang, pukul 18.00 WIB. Kalau misalnya di jam malam aku enggak kerja juga oke, lah. Namun, ini? Malam kurang tidur, siang apalagi. Kena omel sana sini iya.

“Yan, liat faktur yang waktu itu gue simpen di sini, enggak?”

“Mana gue tau. Lo tau sendiri kalo gue lebih baik beresin dus-dus minuman ketimbang ngurusin yang kayak begituan.”

Aduh! Masa iya aku harus menanyakannya kepada Bang Rendra. Aku belum siap mendengar khotbah, ceramah, atau apa pun itu. Belum lagi air mukanya yang jauh dari kata enak dipandang.

Notifikasi Cinta (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang