Usai putus dari Arkana, lalu disusul terserang colic, Riyan menjadi sosok kakak yang posesif. Dia memberi nasihat hampir siang malam supaya aku menjaga jarak dari cowok selainnya. Dia enggak mau aku patah hati dan berakhir menyakiti diri sendiri lagi. Katanya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Prinsip itu yang sedang Riyan pegang.
“Na, sambil nungguin panggilan dari tempat lain, lo mau gantiin gue ke toko, kan? Ini darurat. Ada urusan lain yang gak bisa gue tunda.”
“Urusan apa, sih, Yan?”
Aku menatap Riyan dengan lekat. Akhir-akhir ini, dia jarang tidur di indekos. Katanya, dia suka tidur di toko atas izin Bang Rendra. Namun saat kutanya Dicko, dia bilang kalau Riyan sering pulang lebih awal.
Aku jadi menaruh curiga. Dibalik ini semua ada sandiwara apa, sih? Setiap kutanya, dia berkilah terus. Riyan juga sering memutuskan kontak mata saat kutatap, seperti sekarang.
“Gue mau cari informasi dari Kak Djoana.”
Aku mendengkus kasar. “Biar gue yang nyamper ke tempat Kak Djo. Alamatnya?”
“Gak bisa. Selain itu, ada urusan lain yang gak bakalan bisa lo hendel, Na. Please. Tolong gue kali ini, oke? Gue udah izin ke si bos via japri. Dan entar malem gue jemput lo. Gue cabut, ya.”
***
Sesampainya di toko, Kisya dan Dicko menyambutku dengan hangat. Apalagi Kisya, gadis itu langsung heboh, sampai-sampai belanjaan salah satu pelanggan yang sedang menotal dijeda. Ujung-ujungnya, dia kena omel Bang Rendra sebelum berlalu ke lantai atas, ke gudang, entah ke kamar mandi.
“Mampus!” ejek Dicko setelah pelanggan berlalu. Lalu, dia bersiul.
“Nggak papa. Sekali-kali, weh.”
Aku tertawa kecil. Pandanganku langsung mengedar memperhatikan posisi toko yang sudah berubah seperti kata Dicko dan Kisya. Hanya saja, penataan minuman, bumbu-bumbu dapur, dan perlengkapan kamar mandi yang berbentuk rencengan tampak berantakan. Dapat ide dari mana si penata sampai menyimpan detergen sashet dekat bumbu racik masakan?
“Widih, cembuh dali atit langsung ada yang beda.”
Aku menoleh pada Kisya. Sedari tadi, dia memang cengengesan enggak jelas. Bikin bulu kuduk merinding saja. Beda apanya coba? Kalau bekerja, penampilanku memang seperti ini.
“Toko juga banyak yang beda. Sekarang, emang siapa aja bisa pegang meja kasir?”
“Bisa, lah. Bang Rendra udah kasih izin. Semisal si Kisya curang, kan bisa langsung ketauan sama CCTV.”
“Eh, maksud lo apaan?”
“Udah-udah! Kalian berdua ini apa-apaan, sih? Dikit-dikit ribut.”
“Tau, tuh. Si Dicko tiap harinya bikin emosi terus.”
“Lo kali.”
“Lo!”
“Oh, gue, ya?”
“Iya. Lo!”
“Masa, sih, Sya?” Dicko mencolek dagu Kisya.
“Si Dicko gendeng!”
“Si Kisya gendeng.” Dicko menirukan umpatan Kisya, tapi nada bicaranya datar.
“Kamu yang gila.”
“Lo yang gila.”
“Woy, berisik!” sentakku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Notifikasi Cinta (Tamat)
ChickLitJudul awal aku pake 'Dear, Mantan'tapi diganti jadi 'Notifikasi Cinta'. Happy reading ~ *** Raina tidak nyaman dengan hubungannya bersama sang pacar yang semakin hambar. Kurang berkomunikasi membuat hati kecilnya memberontak, ingin mengakhiri kisah...
