Dengan langkah begitu semangat perempuan berperut buncit itu mulai memasuki rumah. Wajahnya begitu riang menggoyang-goyangkan tangan yang membawa banyak sekali paper bag yang berisi beraneka macam keperluannya sebagai wanita maupun keperluan calon anaknya nanti.
Memang setelah perdebatan sengit tadi, Karina lebih memilih keluar rumah. Berusaha mencari udara segar dan juga merefreshkan otaknya yang mulai agak memanas akhir-akhir ini. Hingga berakhir dengan bershoping ria. Karina dulunya tidak begitu suka belanja karena menurutnya itu terlalu membuang-buang waktu dan uang, tapi untuk sekarang tidak lagi. Karina akan menikmati hidupnya dan juga kekayaan Anggara tentu saja.
Bukankah harta suami akan lebih berkah untuk anak istri? Daripada untuk pelakor tak tahu diri. Tak tanggung-tanggung Karina bahkan membeli mobil menggunakan kartu yang berada dalam dompet milik Anggara. Tentu bukan bertasnamakan namanya, namun bertas namakan Luna. Karena kalau beratas namakan Karina. Percayalah Anggara akan menggugatnya sebagai gono gini saat perceraian mereka nanti.
Karina tidak sebodoh itu. Bahkan Karina sudah menyiapkan berbagai antisipasi untuk kedepannya. Membalas kejahatan dengan kejahatan memang tidak baik. Namun diam saja ketika dijahati itu namanya bodoh!
"Bagus suami lagi sakit malah pergi belanja." sindir perempuan paruh baya dengan daster batik itu.
"Bener itu, Bu. Istri macam apa yang suaminya lagi lemah di tempat tidur malah enak-enakan belanja." imbuh sang madu membuat Karina memutar bola malas. Kenapa Ibunya malah terlihat cocok mempunyai anak seperti Malika, daripada mempunyai anak seperti Karina?
"Iri? Bilang boss." ejek Karina sembari memeletkan lidah, kemudian meninggalkan kedua orang yang menggerutu di belakangnya.
"Heh gak punya sopan santun. Diajak ngobrol malah main pergi-pergi aja."
Mengabaikan gerutuan itu, Karina lebih memilih untuk menginjakkan kaki ke dapur. Perempuan berperut buncit itu akan menyiapkan makan siang untuk suaminya. Memang Anggara jahat padanya. Namun mengingat statusnya, mau tak mau Karina harus tetap melayani Anggara. Bukankah surga istri berada pada suaminya? Ya walau surga yang dijanjikan suaminya sudah terbagi. Tapi tak menyurutkan niat Karina untuk tetap berbakti. Urusan kewajiban tidak ada toleransi bukan?
"Mbak, tolong taruh belanjaan saya ke kamar ya." perintah Karina membuat seseorang dengan seragam pelayan rumahnya itu mengangguk.
"Eh malah ke dapur. Sana gantian jagain Mas Anggara. Aku capek, Rin." keluh Malika membuat Karina menggeleng.
"Resiko jadi istri ya gitu. Terima aja sih. Baru kayak gitu aja ngeluh, gimana nantu kalau Mas Anggara udah tua trus sakit-sakitan. Mau kamu buang?"
"Yakan beda."
"Apa bedanya? Kebanyakan ngeluh kurang aksi. Dosa apa Mas Anggara punya istri kayak kamu. Rugi bandar!"
"Heh aku udah jagain Mas Anggara ya. Kamu kan gak ngapa-ngapain dari tadi, malah asik-asikan belanja juga. Wajar dong sekarang aku minta kamu gantiin aku!"
"Emang kamu lakuin apa sih. Cuma duduk di sebelahnya doangkan? Bahkan aku yakin Mas Anggara belum dikasih makan apalagi obat."
"Tadi pas aku tanya Mas Anggara gak mau. Lagian tadi Mas Anggara sempet marah sama aku gara-gara..." Malika terdiam menyadari mulut bodohnya yang hampir saja kelepasan tentang kejadian tadi. Bisa-bisa Karina menertawakannya.
"Gara-gara kamu sodorin selakangan?" tebak Karina membuat Malika menelan ludah susah payah. Darimana perempuan itu tahu? Jangan-jangan ada CCTV dalam kamar tamu yang ditempati Anggara sekarang?
"Gak usah heran darimana aku tahu. Bakat terpendam penjaja selakangan hanya itukan? Taunya ya ngelayani di ranjang selain itu nol." sinis Karina membuat Malika terdiam. Sehina itukah dia?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rintik yang Retak
NonfiksiAkulah sang rintik Yang kau paksa retak Tentang Karina yang harus menelan pil pahit yaitu pernikahan kedua suaminya yang justru didalangi oleh Mega, Ibu kandung Karina sendiri. Seakan belum puas Mega terus saja melancarkan-melancarkan cara untuk men...
