Zico memainkan bola basket dengan lincah. Dirinya terus mendribble bola dengan lihai. Dirinya tak perduli dengan keadaan sekitar.
Setelah jam istirahat tadi dia tidak mengikuti jam pelajaran atau lebih tepatnya membolos. Zico seumur umur tidak pernah ada kata membolos dalam kamus nya, entah kenapa setelah selesai istirahat tadi dia enggan masuk kelas. Pikirannya kacau, hatinya panas. Hanya satu nama yang kini selalu berputar putar di otaknya dan mengganggu konsentrasi nya, Zelina Aurora Pratiwi, nama itu mampu berhasil memporak porandakan pikirannya. Dia juga yang membuat dirinya seperti ini.
Zico terus mendribble bola dengan cepat, dia melampiaskan kekesalannya dengan bola tersebut. Dirinya bingung kenapa dia bisa sekesal itu melihat kedekatan seorang cewek yang di jauhinya dengan seorang cowok, harusnya dia bahagia kan karena tidak ada yang mengganggunya lagi. Tapi hatinya menolak pernyataan tersebut.
Zico sungguh di buat pusing, padahal dirinya tak masalah ketika melihat Disa dekat dengan seorang cowok. Bukankah dirinya menyukai Disa, tapi kenapa dia tak rela melihat Zelin dengan yang lain.
Zico berhenti mendribel bolanya,
"Shit__ kenapa gue jadi kesal begini!?"
"Harusnya gue seneng kan dia nggak ganggu gue lagi,"
"Atau ini hanya trik nya saja biar gue care sama dia,"
"Iya, ini pasti hanya triknya saja,"
Zico terus berfikir negatif tentang perubahan sifat Zelin yang berubah ke dirinya. Dia seakan akan berharap jika Zelin hanya berpura pura saja untuk menarik perhatiannya.
"Tapi kenapa dia tidak cemburu lihat gue bermesraan dengan Disa?" Monolog nya sendiri sebal.
"Harusnya dia cemburukan? Dia kan tahu gue jadian sama Disa, biasanya dia akan membully Disa, tapi gue nggak lihat hal itu terjadi,"
"Dan kenapa gue ingin lihat dia cemburu,"
"Kayaknya lo udah nggak waras zic," Zico memukul mukul keras kepala miliknya sendiri.
Arghhh____
Zico melempar bola tersebut dengan keras, tapi bola tersebut tak sedikit pun melenceng, malah tepat sasaran yaitu masuk ke dalam ring basket.
Zico berjalan ke arah pinggiran lapang dimana biasa orang orang menonton pertandingan. Dia berjalan dengan begitu lesu, raut wajah yang memperlihatkan wajah kesal, tak lupa juga keringat yang juga menjadi penghias nya, karena tadi dia berolahraga dengan tenaga yang ekstra, keringat penuh memenuhi badan nya.
Zico menyenderkan punggungnya, kepalanya mengahadap ke atas, dan juga posisi tangan nya terlentang.
Matanya terpejam, dia berusaha merilekskan pikiran nya, dia juga mengatur deru nafasnya yang ngos ngossan.
Ketika sedang menikmati aksi istirahat nya, tiba tiba tangannya yang terlentang tadi merasakan sesuatu yang dingin.
"Panas boleh, tapi pikiran harus tetap dingin," ucap seseorang tiba tiba.
Zico menoleh ke arah si pelaku yang membuat tangannya merasakan kedinginan tersebut.
"Cepet minum gih! Biar pikiran lo jadi dingin," Noval menunjuk minuman yang berada di tangan Zico dengan dagunya. Lalu dia ikut duduk di samping Zico.
Zico lalu menegakkan kembali punggungnya dan menggenggam botol minuman yang berada di tangannya tadi.
"Maksud lo apa?" Tanya Zico tak mengerti.
"Gue heran sama lo, kenapa lo itu tidak peka sama perasaan lo sendiri," bukannya menjawab Noval malah memberi pernyataan yang lain.
"Kalau suka bilang, jangan ego yang lo gedein,"

KAMU SEDANG MEMBACA
CHANGED
Teen Fiction# rank 1 goodboy, (22,23 -9-2021) # rank 2 sma (28-9-2021) # rank 5 ceritapendek(29-9-2021) Dia yang mendapat julukan The Queen Of Bullying, si troblemaker, dan si bad girlnya SMA Pancasila. Dia mempunyai kecantikan di atas rata rata, walaupun mem...