bad morning

1K 68 1
                                        

"Apasih bang ga lucu becandanya"

"Ngga becanda"

Beberapa tahun belakangan ini bunda dan papa mereka hanya memberikan mereka uang, tak pernah sekedar menengok keadaan Kia dan Athar. Bagi Kia, Athar adalah abang, papa, sekaligus bunda. Tak tau bagaimana jadinya jika Kia tanpa Athar. Apalagi jika Athar sudah menikah pasti lebih perhatian dengan istrinya.

"Kok cepet banget bang"

"Sebenernya abang udah dijodohin dari 3 bulan yang lalu, kita sempat ketemu juga 2 kali. Tapi abang ngga bisa nyaman"

"Terus kenapa abang mau?"

"Kamu kayak ngga tau papa aja"

Mereka berdua diam sejenak. Kia berfikir untuk bicara kepada papanya agar perjodohan Athar dibatalkan.

"Ngga usah bilang apa apa ke papa. Abang ngga mau kamu dimarahin papa"
Seperti mengerti apa yang Kia fikirkan. Athar tak mau jika Kia kena marah papanya.

                                         •  •  •

     Pagi ini Kia sudah diizinkan pulang ke rumahnya oleh dokter. Tanpa ia ketahui, papanya sudah menunggunya dan Athar di rumah mereka. Sejak kemarin Kia tak mau berbicara dengan Athar.

"Papa sudah tunggu dari tadi"
Kia terkejut saat ia masuk rumah dan sudah ada papanya yang duduk di kursi depan rumah dengan santainya.

"Ki, kamu masuk dulu"

"Engga bang, Kia mau bicara sama papa"

Athar memberi isyarat kepada Kia agar tidak membicarakan apa yang ingin dia bicarakan pada papanya saat ini. Namun Kia tak menghiraukannya, ia tetap ingin tau apa alasan papanya menjodohkan Athar.

"Kenapa papa jodohin bang Athar?"
Air matanya kembali menetes. Ia tak siap menjalani hidupnya tanpa Athar, untuk saat ini.

"Sudahlah itu bukan urusan kamu"

"Udah Ki, kamu masuk dulu aja"
Lanjut Athar yang sama sama geramnya dengan Kia tentang jawaban dari papa mereka.

"Papa mau bicara juga sama Kia"

Athar menatap papanya dengan tatapan yang heran. Apa yang akan ia bicarakan kepada Kia?
Mereka bertiga duduk di ruang keluarga.

"Athar, kamu pasti tau kan apa tujuan papa kesini. Besok lusa kamu harus menikah dengan wanita pilihan papa. Ngga usah khawatir, papa sudah persiapkan semuanya. Dan untuk Kia, kamu harus belajar mandiri tanpa Athar"

"Kok mendadak banget sih pa?"
Protes Athar yang tak tau bahwa pernikahannya akan berjalan di esok hari. Sementara Kia hanya bisa menangis tanpa berkata apapun.

"Papa harap kalian nurut sama papa"

                                         •  •  •

     Sekolah yang ramai, banyak orang yang berlalu lalang, dan tak sedikit juga yang menyapanya, Kia rasa itu sangat sepi. Berbeda dengan biasanya, ia selalu membalas sapaan dari temannya itu. Walaupun hanya sekedar tersenyum. Namun hari ini tidak.

"Kenapa lu ngga cerita sama kita aja sih Ki kalo lu kemarin diculik"
Bukan menjawab pertanyaan Flora, Kia langsung pergi ke kelas begi saja tanpa menjawab satu kata pun.

"Kenapa tuh anak?"
Tanya Kina kepada teman temannya yang lain

Mereka semua hanya menggeleng lalu melanjutkan langkahnya. Walaupun terbilang belum cukup lama mereka berteman dengan Kia, namun mereka sudah akrab dengan Kia, begitupun sebaliknya.

                                          •  •  •

Waktu istirahat saat ini Kia hanya ingin berdiam diri di kelas. Banyak teman temannya yang mengajaknya ke kantin, termasuk pasgamov. Namun ditolak oleh Kia.

"Ki, ikut gue"
Ravish menemui Kia di kelas, kali ini ia ingin mencari kejelasan dengan sejelas jelasnya.

"Ada apa kak?"

"Ikut aja"

Kia berjalan mengikuti Ravish. Semua siswi yang melihatnya heran, karena sebelumnya tak ada satupun perempuan yang berjalan berdampingan dengan salah satu anggota Caztor, kecuali Seren.

"Sekarang jelasin ke gue alasan lo pindah ke sekolah ini"

                                          •  •  •







    

...Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang