Chapter Three

216 58 40
                                        

That Day. The Worst Day of My Life...

"Assalamualaikum. Bundaaaa..." Teriak Jenna. Jenna yang masih tersenyum hangat dan ceria kala itu.

"Bundaaaa aku keterimaaa di U..."

Pranggggg!!!

Kalimat Jenna terhenti seketika. Senyum merekahnya hilang dari wajahnya. Suara sesuatu pecah nyaring terdengar dari arah dapur. Jenna yang terkejut segera berlari menuju sumber suara.

Dilihatnya keadaan ruang tamunya yang berantakan. Jejak sepatu laki-laki terlihat membekas di lantai rumahnya.

"Ampuunn, ampunnn pak, saya ngga tauuu..."

Jenna terhenti. Matanya membelalak melihat Bundanya terduduk di lantai dapur dengan seseorang laki-laki bertubuh tinggi besar menjambak rambutnya. Dapur rumah yang selalu rapi dan bersih mendadak berantakan, semuanya berserakaran, beberapa piring dan gelas dalam kondisi yang pecah.

"Bundaaa..."

Jenna melihat bekas biru lebam di sudut bibir Bundanya. Entah mengapa saat itu dia tidak bisa berpikir apa-apa. Shock. Dia hanya menatap kosong lalu berlari ke arah Bunda-nya.

"LEPASSS! LEPASSS!!!" jeritnya histeris sambil berusaha melepaskan tangan besar yang menarik rambut Bundanya.

Orang bertubuh besar dan berwajah seram itu beralih mendekati Jenna. Kedua tangannya menarik kerah baju seragam sekolah Jenna.

"JANGANNN! Jangan paaak, jangan anak sayaaa..." Bunda menangis histeris sambil melepaskan dengan paksa tangan orang itu dari kerah Jenna.

Bunda memeluk Jenna, berusaha menghalangi Jenna dari sentuhan orang yang Jenna pun tidak tahu siapa dia dan apa penyebabnya semua ini.

Mendadak Oma datang perlahan dari belakang. Oma dengan Penyakit Demensia-nya itu berjalan perlahan sambil membawa tongkat Baseball milik Ayah dan mengayunkannya ke badan Orang asing itu.

Belum sempat terkena ke badan orang itu, tiba-tiba seseorang menghentikan pukulan dari Oma dengan satu tangan. Orang Besar lainnya datang, melindungi temannya.

"Ckck..., kalian memaksa kami untuk brutal?!" Tanya Orang itu sambil mendekati Oma.

"Perlu saya apakan nenek tua ini?" kata temannya sambil tertawa jahat.

Bunda bangun dan melepaskan pelukannya dari Jenna, berlari ke arah ibunya, menghalangi dua orang asing itu mendekat.

"Saya bayar Pak! Saya... akan bayar hutang Suami saya, tapi... jangan sakiti keluarga saya.." Teriak Bunda dengan suara bergetar sambil memeluk Oma.

Jenna terisak. Air matanya mengalir di kedua pipinya. Apa yang terjadi hari ini, semuanya masih buram di kepalanya.

"Saya akan coba hubungi suami saya..." Kata Bunda lagi sambil menangis.

Jenna teringat. Sudah seminggu kebelakang ini memang Ayahnya tidak pulang ke rumah dan tidak menghubunginya sama sekali. Tapi..., Bundanya hanya bilang kalau Ayah sedang perjalanan dinas keluar kota. Apa yang sebenarnya terjadi???

"Saya tunggu minggu depan!" Kata orang-orang itu sambil perlahan berdiri dan perlahan keluar dari rumah.

Jenna melihat Bunda-nya duduk dan menangis kencang sambil memeluk Ibu Kandungnya yang menderita penyakit Demensia. Hati Jenna kelu, tangisnya pecah saat itu juga.

.....


Jenna sontak terbangun dari tidurnya.

Dia terduduk. Tanpa sadar air matanya mengalir.

What Happens When You DieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang