"Terus kenapa kalo ketinggian?!" Dia menjawab dirinya sendiri sambil berteriak kencang. "Apa salahnya mati dari lantai 5?!"
Suaranya bergetar. Ingin menangis tapi sudah terkuras air matanya karena terlalu sering menangis.
Gadis itu kembali membulatk...
People linked by destiny will always find each other...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Sumber Gambar : Pinterest)
Di hari libur yang jarang di dapatkannya ini, Jenna memutuskan untuk berjalan-jalan. Awalnya dia hanya ingin mencari angin segar, dilihat dari belakangan ini cuaca Jakarta cukup mendukung untuknya berkeliling kota dengan menggunakan Bus, seperti yang dulu sering ia lakukan. Namun ternyata langkah kakinya justru mengarah ke tempat-tempat dimana dia menghabiskan waktu bersama Dion.
Setelah Sunrise Cafe waktu itu, hari ini Jenna datang ke taman tempat Dion membawanya kabur dari kejaran rentenir dulu, kemudian siang harinya Jenna memutuskan untuk makan siang di Restoran Korea, tempat dimana Dion mengatakan cinta kepadanya.
Jenna duduk sendiri sambil membolak-balik daging yang sedang di masaknya. Malam itu, Jenna dan Dion banyak tertawa dan mengobrol bersama.
Masih jelas terngiang di ingatan dan telinga Jenna kala itu, "I like you. In a big, more-than-friends kind of way..."
Jenna tersenyum pahit mengenang itu.
'Rasanya hatiku akan meledak karena merindukan kamu, Dion...'
...
Jenna melanjutkan perjalanannya. Menjelang sore ini dia berhenti di sebuah toko bunga yang terletak tidak jauh dari area Pemakaman Bundanya.
"Seperti biasa, Bunga Lily Putihnya..." Kata Jenna ramah kepada penjaga toko bunga itu.
Kemudian Jenna berjalan memasuki kawasan pemakaman sambil menikmati angin sore dan pemandangan indah makam yang merupakan tempat pemakaman elite ini.
"Sore, Bunda..." Sapa Jenna dengan senyuman cerah.
Sambil meletakkan sebuket bunga lily kesukaan mendiang ibunya itu, Jenna duduk di atas rumput indah di sebelah makam ibunya.
Jenna memperhatikan sekeliling makam elite yang indah dan tidak terasa menakutkan ini.
"Bunda bahagia kan di makamkan disini? Banyak bunga-bunga yang tumbuh cantik. Rumput-rumputnya pun juga cantik..." Kata Jenna. "Ini seperti taman bunga..."
Jenna memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya. Dia merasakan angin sepoi-sepoi yang mengibaskan rambut cokelatnya yang kini telah tumbuh panjang sepunggungnya.
Jenna tersenyum.
"Bunda..., Sudah hampir lima tahun setelah kepergian Bunda." Ucap Jenna. "Sepertinya..., Aku sudah paham ikhlas yang sebenarnya itu seperti apa..."
Kata Jenna sambil melihat langit biru diatas sana.
"Bunda..., waktu itu..., Sulit bagiku untuk menerima ini semua. Kepergian Bunda waktu itu membuat aku seperti selalu tinggal di malam hari. Gelap dan dingin." Kata Jenna.