"Terus kenapa kalo ketinggian?!" Dia menjawab dirinya sendiri sambil berteriak kencang. "Apa salahnya mati dari lantai 5?!"
Suaranya bergetar. Ingin menangis tapi sudah terkuras air matanya karena terlalu sering menangis.
Gadis itu kembali membulatk...
"Baiklah, sekarang tarik napas panjang dan buang perlahaaan, kemudian rileks-kan tubuhmu dan buka mata perlahan..."
Instruksi lembut seorang wanita membangunkan Jenna dari alam bawah sadarnya.
Perlahan mata Jenna terbuka.
"Kondisimu bagus. Aku lega..." Kata wanita itu sambil tersenyum melihat Jenna dan kembali berdiri untuk duduk di belakang meja kerjanya.
Jenna perlahan bangun untuk pindah ke kursi pasien, tepat di hadapan Dokter cantik dengan name tag Andine Rahayu SpKJ*
(SpKJ : Spesialis Kedokteran Jiwa; Psikiater)
"Belakangan ini bagaimana kualitas tidurmu? Masih buruk?" Tanya seorang dokter wanita dengan lembut.
Jenna menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, kemudian tersenyum simpul, "Aku tidur dengan baik belakangan ini, Dok..."
"Sudah hampir tiga bulan ini kamu tidak datang untuk psikoterapi..." katanya lagi. "Aku khawatir. Tapi melihat kamu jauh lebih baik sekarang, aku senang. Suatu peningkatan yang baik." Jelas Dokter Andine dengan wajah dan suara yang terlihat sangat tulus.
Jenna merespon kalimat hangat itu dengan senyuman, "Berkat bantuan Dokter..."
"Seseorang membantumu hingga merasa lebih baik, kan?" Tebak Dokter Andine dengan wajah yang bersemangat.
Jenna cukup terkejut mendengar tebakan Dokter Andine yang tepat sasaran itu. Dengan kikuk, Jenna hanya tersenyum malu.
Jenna terbelalak mendengar itu, kemudian tertawa kecil, "Dokter Andine sedikit lagi bisa ngalahin dukun sepertinya..."
Mereka berdua tertawa bersamaan.
"Tapi memang begitulah adanya, Jen. Gangguan kecemasan, trauma dan masalah kesehatan mental lainnya akan perlahan sembuh jika kita, sebagai pasien, berada di sekitar orang-orang yang menyayangi kita." Kata Dokter Andine. "Itu jauh lebih manjur dari obat manapun..."
Jenna tersenyum mendengar itu. Di dalam lubuk hatinya, dia setuju. Belakangan ini, dia beruntung dikelilingi orang yang baik dan tulus. Dion, Kak Bayu, Krisna, Jeff, Oma.. dan bahkan, Rena.
"Dan juga, kamu harus perlahan peduli dan menyayangi dirimu sendiri lebih dari apapun dan siapapun." Kata Dokter Andine, "Karena tubuh kita dan jiwa kita-lah yang setia menemani kita di saat kita jatuh ataupun saat kita bangkit dan berlari."
Mata Jenna berkaca-kaca, hatinya tersentuh. Jenna menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Dokter Andine itu.
"Sepertinya dosis obat sudah bisa aku kurangi yaa. Minum di saat kamu benar-benar butuh saja." Kata Dokter Andine sambil menuliskan beberapa resep obat. "Perlahan kita coba untuk menghilangkan ketergantungan kamu dengan Anti-depresan ini..."
Jenna tersenyum bersemangat. Dia yakin dia bisa sepenuhnya pulih dari gangguan kecemasan ini.
"Saya yakin bisa segera pulih, Dok." Jawab Jenna yakin dan optimis.
Dokter Andine tersenyum lebar, merasa tersentuh dan bangga dengan banyaknya perubahan positif yang terlihat dari pasien yang disayanginya ini, kemudian di balas dengan hangat oleh Dokter Andine, "Kamu akan pulih. Saya yakin. You deserve happiness more than anything, Jen..."
----------------
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.