14 Hari Yang Lalu...
Di sudut pandang lain, seseorang duduk di sudut paling ujung atap gedung Rumah Sakit. Dia menyandarkan punggungnya di tembok. Merogoh saku hoodie hitamnya yang ber-merk Converse di bagian depannya. Dia duduk sembarang, tak peduli dengan kotornya lantai atap gedung yang bisa mengotori Ripped Jeans andalannya.
Dia merogoh lagi saku hoodienya.
'Hah? Mana kok gak ada?' batinnya.
Tak menemukan apa yang dicarinya, kemudian dia merogoh saku celana jeansnya.
"Nah..." Gumamnya sambil mengeluarkan sebungkus rokok yang ternyata berada di saku celananya.
Diambilnya satu batang rokok. Dipantikkan pemantik apinya. Dihisapnya dalam-dalam kemudian di hembuskan asap dari mulutnya.
Matanya menatap ke arah pemandangan di depannya. Pemandangan lampu-lampu gedung tinggi di Ibukota, dengan agak samar terdengar beberapa suara klakson mobil di jalanan bawah sana. Angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya dan menghempaskan rambut hitamnya.
"Hari yang melelahkan..." gumamnya. Dia kembali menghisap rokoknya.
Matanya menatap ke arah sepatunya. Tali sepatu Converse-nya berantakan. Seperti biasa, terburu-buru mengganti sepatu sambil berlari ke atap gedung ini ketika lelah dan stress adalah kebiasaannya. Tangannya merogoh tali sepatu itu dan mengikatnya rapi.
Matanya menerawang, pikirannya mulai rileks. Begitu pula dengan tubuhnya. Matanya perlahan terpejam. Udara malam hari ini sejuk sekali, entah mengapa membuat dia mengantuk. Dihempaskan rokoknya ke lantai sambil mematikan apinya.
Tangannya merogoh tudung hoodie untuk menutupi kepalanya. Perlahan dia menunduk dan memejamkan matanya. Semudah itu dia tertidur di atap gedung ini.
Baru lima menit dia terpejam dan siap terlelap, suara pintu tangga darurat yang menghubungkan rumah sakit ke atap gedung ini terbuka kencang. Langkah kaki seseorang yang setengah berlari terdengar.
Laki-laki dengan hoodie hitam itu tetap terpejam dan berusaha melanjutkan tidurnya, tak acuh dengan kebisingan barusan.
"..." Suara berisik itu tiba-tiba hening.
Hening sekali.
Mata laki-laki itu perlahan terbuka. Suasana aneh tiba-tiba dirasakannya. Sampai akhirnya terdengar teriakan seorang wanita...
"Terus kenapa kalo ketinggian??!!! Apa salahnya mati dari lantai 5?!?!"
Laki-laki dengan hoodie hitam itu terkejut. Badannya refleks terbangun. Dia melihat ke arah sumber teriakan itu.
'Oh Shit!' Teriak hati kecilnya begitu melihat sesosok perempuan bertubuh mungil dengan kulit seputih susu berdiri di tepi penghalang gedung ini.
Dia berlari ke arah perempuan itu. Adrenalinnya berpacu. Terlambat sedikit akan kacau. Dari sekian banyak hari mengapa hari ini begitu berantakan baginya. Dia tidak ingin menambah beban pikirannya hari ini dengan melihat orang mati tepat di depan matanya.
Tepat waktu, tangan laki-laki itu menarik tangan perempuan yang terhuyung di tepi atap. Dia menggertakan giginya sambil menangkap tubuh perempuan itu ke pelukannya.
'Nice Timing!' Sahutnya dalam hati begitu menggendong perempuan asing itu.
"Ngg..." suara perempuan itu sambil terpejam tak sadarkan diri.
Laki-laki itu menyentuh dahinya. Panas sekali suhu tubuhnya. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Dilihatnya bekas infus yang sepertinya dicabut paksa.
KAMU SEDANG MEMBACA
What Happens When You Die
Teen Fiction"Terus kenapa kalo ketinggian?!" Dia menjawab dirinya sendiri sambil berteriak kencang. "Apa salahnya mati dari lantai 5?!" Suaranya bergetar. Ingin menangis tapi sudah terkuras air matanya karena terlalu sering menangis. Gadis itu kembali membulatk...
