"Terus kenapa kalo ketinggian?!" Dia menjawab dirinya sendiri sambil berteriak kencang. "Apa salahnya mati dari lantai 5?!"
Suaranya bergetar. Ingin menangis tapi sudah terkuras air matanya karena terlalu sering menangis.
Gadis itu kembali membulatk...
Dion memasuki suatu ruangan, lengkap dengan baju biru kedokteran pada umumnya dan juga jas putih Dokter dengan nama yang tertulis di bagian saku jas bagian kanan-nya, Dion Putra Maheswara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Sumber Gambar : Pinterest)
Dion berdiri di depan meja kerja seorang pria berkacamata di usianya yang memasuki 58 Tahun.
"Setelah enam bulan belajar dan mengamati keadaan disini, bagaimana menurutmu? Kamu bisa memberikan yang terbaik?" Kata Pria itu.
"Saya bisa, Ayah." Jawab Dion kepada Ayah angkatnya, Dokter Bedah yang sekarang menempati posisi Presiden Direktur Rumah Sakit ini, Dr. Alan Maheswara.
"Hari ini hari pertama kamu resmi Bekerja sebagai Dokter, sementara ini bantu Team UGD." Kata Ayah Dion.
Dion hanya diam mendengarkan arahan dari Ayah angkatnya itu.
"Tunjukkan performa terbaik kamu ke saya, jika kamu bisa, selanjutnya saya akan resmi perkenalkan kamu di depan semua Dokter dan pegawai disini." Jelas Ayah Dion lagi. "Kamu paham?"
"Paham." Jawab Dion singkat.
Tak lama, Dion keluar dari ruangan kantor Ayahnya, berjalan menuju Unit Gawat Darurat. Dion merasa tertantang untuk membuktikan bahwa dia memang pantas mendapatkan gelar 'Dokter Termuda dan Berbakat'. Walaupun Dion tahu, segala bentuk pembuktian kepada Ayahnya tidak akan mengubah apapun. Ayahnya tidak akan pernah berubah menjadi hangat dan memperlakukan Dion seperti anak kandungnya sendiri.
Hubungan mereka hanya seperti hubungan bisnis antara atasan dan bawahan, bukan hubungan yang selama ini Dion harapkan. Tapi setidaknya, dia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa anak kecil yang berasal dari Panti Asuhan dan tidak memiliki orang tua ini bisa tumbuh dengan karir dan masa depan yang cemerlang.
'Terutama untuk Mama Dian..' Batin Dion.
Sudah sekitar setahun belakangan ini Dion mencari keberadaan Ibu Dian. Satu-satunya figur Ibu yang memperlakukan Dion dengan hangat. Namun, tanpa pamit dan entah apa alasannya, Ibu Dian tiba-tiba menghilang dari Panti Asuhan setahun setelah bertemu Dion kecil dulu.
Dion harus membuat Ibu Dian menyesal telah meninggalkannya begitu saja, Dion merasa harus menjadi sosok yang hebat dan sukses ketika nanti akan bertemu dengan Ibu Dian. Tanpa sadar, luka di masa lalu membuat ego dan amarah di dalam hati Dion tumbuh begitu besar hingga membuatnya hidup tanpa memperdulikan mimpi dan angan-angannya sendiri.
"Setidaknya dia harus punya alasan yang tepat setelah pergi begitu saja." Gumam Dion ketika mengingat Ibu Dian.