Chapter Twenty Six

82 17 14
                                        

Ting.. Tinngg...

Tak.. Takk.. Takk...

Terdengar samar suara dari arah dapur yang sibuk pagi ini, tak seperti biasanya.

Perlahan mata seseorang terbuka. Sinar matahari pagi yang hangat memasuki ruang tamu dari jendela kaca besar yang berada di rumah ini.

Dion terbangun dari tidurnya yang lelap. Aroma yang lezat tercium hingga mendadak membuatnya merasa lapar.

Dilihatnya dari arah tempat dia berbaring, nampak punggung wanita dengan rambut cokelat yang dikuncir kuda sedang sibuk di arah dapur.

Kemudian wanita itu berbalik, dengan riasan dan baju yang sudah rapi, dia mencicipi masakan yang sedari pagi tadi dibuatnya.

Dion menatap dengan terpesona.

Di Pagi yang hangat dan cerah ini, seorang malaikat mungil nan cantik sedang mempersiapkan sarapan untuknya.

Dion tersenyum melihat itu, masih sambil berbaring di sofa nyamannya ini.

Pemandangan pagi yang luar biasa disyukuri-nya hari ini. Kejadian kemarin nampaknya memang bukan mimpi semata. Dipukul hingga babak belur nampaknya justru membawa banyak berkah bagi kehidupan Dion. Seseorang dengan perawakan dan hati bagai malaikat datang dalam kehidupan sepinya dan mengisi kekosongan hatinya.

Tiba-tiba Jenna mendongak dan menatap ke arah Dion.

Melihat itu, Dion dengan cepat kembali memejamkan matanya. Dion menutup mulutnya rapat-rapat, menahan senyumnya sekuat mungkin.

Jenna memindahkan masakannya ke meja makan, kemudian melihat Dion yang nampak masih tertidur pulas. Dilepaskan apronnya dan berjalan ke arah Dion dengan senyuman.

Jenna duduk berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan sofa tempat Dion tidur.

Jenna menatap wajah tampan seorang laki-laki di hadapannya itu. Meskipun wajahnya hari ini dipenuhi dengan banyak luka memar hingga lebam biru, itupun tak melunturkan ketampanannya.

Tanpa disadari Jenna, tangannya meraih beberapa rambut hitam Dion yang menutupi dahinya. Mengelusnya dengan lembut. Jenna tersenyum, hanya melihat wajahnya saja membuat hatinya nyaman dan berdebar kencang.

Kemudian tiba-tiba, tangan Dion menggenggam dengan lembut tangan mungil Jenna yang sedang menyentuh rambut di dahinya itu.

Jenna terkejut.

Dion membuka matanya perlahan.

"Good morning..." Katanya lembut sambil tersenyum hangat.

Wajah Jenna memerah. Mereka bertatapan dengan jarak wajah masing-masing yang amat sangat dekat.

Karena terkejut, Jenna berusaha menjauhkan diri dari wajah Dion yang membuatnya sesak napas karena ketampanannya ini.

Namun, dengan cekatan, Dion menarik tangan Jenna hingga wajah mereka makin dekat, kemudian...

Cup!

Satu ciuman hangat nan lembut mendarat dengan cepat ke bibir mungil Jenna.

"Morning kiss..." Kata Dion kemudian dengan senyuman khasnya yang tampan.

Jenna mematung, wajahnya memerah. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah ciuman pertamanya. Dengan seorang yang tampan dan juga disayanginya. Ditengah kegugupannya itu, hatinya membuncah bahagia.

......

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
What Happens When You DieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang