"Terus kenapa kalo ketinggian?!" Dia menjawab dirinya sendiri sambil berteriak kencang. "Apa salahnya mati dari lantai 5?!"
Suaranya bergetar. Ingin menangis tapi sudah terkuras air matanya karena terlalu sering menangis.
Gadis itu kembali membulatk...
Everyone You Meet is Fighting a Battle You Know Nothing About...
Seorang laki-laki dengan cepat masuk ke dalam Taksi. Duduk di kursi penumpang bagian belakang. Kemudian menyebutkan alamat yang di tuju kepada Sopir Taksi.
"Ke Kemang ya pak.." Katanya.
Dia menyeka air hujan yang sedikit mengenai kemeja flanelnya. Dilihatnya jam tangan, tepat pukul 12 malam dan kondisi Jakarta sedang hujan deras. Matanya menerawang, menatap kosong pemandangan Ibukota yang diguyur hujan di tengah malam ini.
Sesekali Dia melihat kondisi lenggang-nya Jakarta di malam hari yang hujan lewat jendela kaca mobil taksi ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Sumber Gambar : Google)
Badannya letih, tetapi kepalanya tidak berhenti berpikir. Berpikir tentang insiden buruk yang terjadi kepadanya enam bulan lalu.
Kemudian dia teringat sesuatu. Tangannya merogoh kantung celana, mencari keberadaan handphonenya. Jari-jarinya dengan cepat mencari kontak yang akan di telpon. Kemudian jarinya terhenti pada satu kontak yang tertera di layar handphone, Bayu.
Tuuuut....
Suara tanda panggilan tersambung terdengar. Namun setelah beberapa saat panggilan itu tidak di gubris.
Dilihat Baterai Handphone-sudah merah, tepat di angka 10. Dia matikan Handphone-nya, kemudian menyandarkan diri dengan nyaman di kursi penumpang. Badannya lelah sekali.
Beberapa saat kemudian, taksi tiba di lokasi tujuan. Laki-laki itu menyerahkan uang dan kemudian turun dari taksi.
Di bukanya pintu suatu toko. Sedari perjalanan panjangnya tadi dari luar kota, entah mengapa terngiang-ngiang Caramel Macchiato andalan kedai kopi kenalannya itu.
Dia lelah dan mengantuk tetapi menginginkan sedikit Kafein di tubuhnya untuk menyegarkan badannya yang pegal-pegal ini. Mungkin sebagian orang kesulitan untuk tertidur setelah meminum kopi, tetapi hukum itu tidak berlaku baginya. Tubuhnya sudah terlalu kebal dengan Kafein, mengingat hampir setiap hari dia meminumnya.
Laki-laki itu berjalan masuk di ruangan Kedai Kopi yang gelap ini, hanya ada sinar dari lampu jalanan yang menerobos masuk dari pintu dan jendela kaca. Enggan menyalakan lampu karena terlalu malas, dia menyalakan lampu senter di handphone-nya, kemudian masuk ke bar dan membuat Caramel Macchiato.
'Americano maafin gue, malam ini engga dulu, you're too strong, Man...' Batinnya dalam hati.
Kemudian dia berjalan ke area customer, duduk di sofa panjang pojok ruangan yang lumayan jauh dari bar. Dia menyeruput minumannya di dalam gelas plastik khusus karyawan. Jika dia berani menggunakan cup andalan Coffee Shop ini, mungkin besok Bayu akan datang sambil menendangnya.
Sruuuuttt...
Dia menyeruput minumannya lewat sedotan. Matanya menerawang ke pemandangan luar yang terlihat dari dalam Kedai ini.