Chapter Twenty

75 21 3
                                        

Hurting people back will not heal your pain...

Ting..Toonggg...

Suara bel terdengar dari dalam suatu apartment.

Tidak lama, pintu apartement itu dibuka. Betapa terkejutnya Rena, dia melihat sesosok perempuan yang paling tidak ingin dia temui, sedang berdiri di depan pintu apartemennya, dengan membawa sekantung Cheesecake dari Brand kesukaannya.

"Jenna?" Tanyanya refleks begitu melihat Jenna berdiri dengan senyuman kikuk di depan pintu apartemennya.

"Hai, Ren..." Kata Jenna.

....


Jenna berjalan masuk ke dalam apartment Rena yang cukup besar ini. Dengan Rena yang segera menuju dapur untuk menyiapkan minuman untuk tamu yang tidak diundangnya ini.

Jenna duduk di sofa putih yang empuk. Dilihat dari apartement-nya, sepertinya Rena bukan orang yang sembarangan. Bukan sekedar pegawai ataupun asisten dari seorang Bayu.

Tidak lama Rena datang sambil membawa dua gelas berisi lemon tea.

"Gue ngga tau lo suka apa engga, tapi gue cuma punya ini..." Kata Rena sambil mempersilahkan Jenna untuk meminumnya.

Jenna dengan cepat mengambil gelas itu dan meneguknya, "Gue suka lemon tea, Ren. Thank you..."

Namun kemudian suasana kembali menjadi kikuk dan hening. Jenna merasa kaku dan tidak bisa duduk dengan nyaman, di sisi lain Rena juga terlihat jelas duduk diam dengan kaku dan tanpa ekspresi. Keduanya tidak menemukan suatu topik percakapan, melihat selama sebulanan ini hubungan mereka kurang baik.

"Kamu tinggal sendirian, Ren?" Tanya Jenna memecah keheningan.

Rena menatap Jenna sekilas kemudian mengangguk, "Iya.."

Jenna kemudian mengangguk dan menatap sekeliling apartemen Rena yang serba putih dan bernuansa minimalis ini.

"Apartemenmu bersih dan besar yaaa..." Kata Jenna.

Rena hanya terdiam mendengar itu. Melihat Jenna datang ke tempat tinggalnya adalah sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya. Bukan sepenuhnya benci yang dirasakan oleh Rena ke Jenna, tapi terasa seperti Jenna telah merebut 'sesuatu' darinya. Yang sebenarnya, alam bawah Rena sadar bahwa 'sesuatu' itu bukan miliknya seutuhnya. Namun tetap saja perasaan kesal tidak bisa dihilangkannya begitu saja.

Di satu sisi, Jenna melihat suatu botol obat yang nampak familiar baginya, di rak buku mini di sebelah sofa yang dia duduki. Obat Anti-depresan*.
Jenna tahu betul obat apa itu.

(Obat Anti-depresan : Obat anti depresi yang digunakan untuk pasien dengan gangguan kecemasan)

"Lo mau apa kesini?" Tanya Rena pelan, namun tidak dengan nada ketus yang biasa dia lontarkan.

Jenna menatap Rena yang terlihat tampak lesu dan pucat, "Kamu sakit, Ren?"

"Engga. Gue cuma kecapean dan butuh istirahat." Jawab Rena.

Jenna hanya terdiam mendengar itu. Jenna tahu sesuatu sedang tidak baik-baik saja, setidaknya untuk Rena belakangan ini. Obat itu adalah bukti. Dan dilihat dari ekspresi Rena hari ini, dia tampak lesu dan tak bersemangat seperti biasanya.

"Kamu sudah sarapan? Belum kan? Aku jago masak loh..." Kata Jenna sambil berdiri dan berjalan ke arah dapur tanpa dipersilahkan.

Rena hanya menatap Jenna yang berjalan ke arah dapurnya dengan tatapan bingung. Kemudian, refleks Rena mengikuti Jenna.

What Happens When You DieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang