Chapter Twenty One

79 22 4
                                        

Life's too short to be living it for someone else...

"Dok, Dokter Alan manggil Dokter ke ruangannya..." Kata seseorang perawat.

Dion yang sore itu sedang melamun di ruangan-nya pun terkejut.

"Saya? Dipanggil?" Tanya Dion keheranan.

Pasalnya setelah kecelakaan Ibu Dian, yang bagi Ayahnya hal itu menurunkan reputasi Dion sebagai Dokter, Ayahnya tidak pernah sekalipun memanggilnya ke ruangannya lagi. Dan mendadak hari ini Beliau memanggilnya lagi setelah sekian lama.

"Iya, Dok.." Kata Suster itu.

Dengan wajah yang keheranan, Dion berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangannya untuk menemui Ayahnya.

Tok...Tokk...Tookk...

Suara ketukan pintu terdengar.

"Masuk." Sahut suara samar dari arah dalam ruangan.

Dion membuka knop pintunya dan masuk perlahan ke ruangan itu.

"Ayah manggil saya?" Tanya Dion.

Tanpa basa-basi Dokter Alan menjawab pertanyaan itu, "Saya dengar kamu sudah bertemu Emily. Dan kamu menolaknya?"

"Kami berdua menolaknya." Jawab Dion tegas.

Dokter Alan menatap Dion dengan tatapan kesal.

"Atas dasar apa berani-beraninya kalian memutuskan hal itu? Kamu gak bisa berpikir panjang? Dampak besar bisa terjadi jika keluarga mereka merasa diremehkan!" Kata Dokter Alan dengan suara yang mulai meninggi.

"Saya rasa, saya punya otoritas atas hidup saya sendiri. Saya pikir Emily setuju dengan itu." Jawab Dion.

Entah kegilaan darimana yang membuat Dion berani menantang Ayah angkatnya itu. Tapi yang jelas, Dion sudah muak menjalani hidupnya untuk orang lain.

Dokter Alan menatap Dion dengan tajam.

"Ayah..., saya pikir, saya ingin mencoba hidup untuk diri saya sendiri. Saya harus memperjuangkan apa yang ingin saya lakukan dan mengatakan tidak untuk apa yang tidak ingin saya lakukan." Jelas Dion dengan nada yang tulus.

"..." Dokter Alan hanya menatap Dion dalam diam.

"Saya harap Ayah dan Ibu bisa mengerti..." Kata Dion lagi.

.....


"Bukan posisi kamu untuk menentukan apa pilihan hidupmu. Kita bukan berada di keluarga yang bisa seenaknya menentukan pilihan hidup."

Jawaban dingin Ayahnya sore tadi seperti hantaman keras di hati Dion. Memangnya makna keluarga itu seperti apa? Merenggut masa depan dan keinginan anaknya seperti ini kah? Atau memang nasib Dion sebagai anak angkat harus mau-tidak mau melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan?

Rasa kesal memenuhi hati dan kepalanya, Dion berjalan dengan marah di koridor Rumah Sakit. Melepaskan Jaket Putihnya dan memasuki ruang ganti Dokter.

Dibukanya pintu loker yang bertuliskan namanya, Dion Putra Maheswara.

Dion tertawa sinis melihat tag namanya yang berada di pintu loker itu.

"Dion Putra Maheswara." Gumamnya dengan nada sinis.

Setelah dipikir-pikir, menyandang nama 'Putra Maheswara' ternyata membuatnya sesak setengah mati.

Di dalam lubuk hatinya, Dion rindu dengan sosok Dion kecil yang hidup bahagia tanpa adanya tuntutan hidup ini-itu yang tidak masuk akal seperti sekarang ini.

What Happens When You DieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang