20 | MY BUSINESS

14 0 0
                                        

Tatapan dan senyuman itu, lia mengingat nya. laki laki yang sekarang duduk di hadapannya ini adalah laki laki yang ia lihat di depan rumah kai dan rose.

Jika kalian lupa, saat lia dan keluarga nya ada di rumah kai rose, lia berdiri di teras depan, ia melihat sekelompok laki laki sedang tertawa bersama, ia melihat salah satu laki laki dipukuli oleh seorang nenek menggunakan tongkatnya. Dan laki laki itu adalah laki laki yang sekarang ada di hadapannya.

"kamu lama sekali. kami sudah menunggu mu daritadi loh. Kamu jajan aneh aneh lagi yak. Ada bayar gak?" tanya ella beruntun.

"sttt, berisik. Nanya nya satu satu dong, aku pusing kan mau jawab yang mana dulu."

"banyak alasan."

Laki laki itu terkekeh kemudian menolehkan kepala nya kearah lia. lia sekarang sedang duduk di batu besar di bukit itu, ia tidak ingin menganggu mereka yang akan makan siang bersama. Ia berjalan mendekati lia, dan duduk di samping lia. lia hanya melirik sesaat, kemudian Kembali melihat pemandangan di hadapannya.

"kita pernah ketemu kan?"

Lia menganggukan kepalanya, lia merasa canggung berada di samping laki laki ini.

"berarti kamu baru pindah kesini ya? Nama kamu siapa? aku gio." kata gio memperkenalkan dirinya, ia mengajak lia bersalaman.

"nama ku lia." jawab lia singkat dan ia tidak membalas jabatan tangan gio.

Gio tersenyum melihat kelakuan lia.

"kenapa kamu duduk sendirian disini?"

"aku gak mau ganggu kalian. Aku kan bukan anggota geng kalian."

"hahaha, santai aja sama kita. Kita berteman sama siapa aja, tapi karena kemana mana kita selalu berlima, orang orang jadi menganggap kami satu geng."

"ooh begitu ya."

"kamu cuek banget keknya. Gak nyaman disini?" tanya gio lagi.

"aku memang begini, kalau kamu gasuka jangan ajak aku ngomong. Kamu gabung aja sama teman teman kamu yang lain, mereka lihatin kamu tuh."

Gio melihat kearah belakang dan benar saja, mereka menatap dirinya dengan tatapan ngapain kamu? Kamu suka dia ya? kurang lebih begitu.

"haha, mereka gak lihatin aku doang, tapi dia lihatin kita berdua."

"kenapa memang nya sama kita berdua?" tanya lia.

"eem.. mungkin karena kita cocok? Hahaha."

"kamu terlalu percaya diri. Memang nya aku mau sama kamu?"

"memang nya aku ada nanya kamu mau sama aku?"

Lia terdiam mendengar nya, benar juga, menyebalkan sekali ia kalah berdebat dengan gio.

"baiklah baiklah, kamu menang. satu kosong." kata lia sambil tersenyum kecil.

Meskipun senyuman yang lia tunjukkan kecil, gio dapat melihat senyuman itu.karena gio benar benar memperhatikan seluruh wajah lia. andai saja lia adalah perempuan yang murah senyum, mungkin gio benar benar dibuat mabuk oleh senyuman itu. senyuman yang jarang sekali ditunjukkan kepada orang. Gio tau hal itu karena di hari pertama ia melihat lia, lia sudah memasang raut wajah datar.

Gio benar benar bingung dengan perasaan nya sekarang, ia merasakan perasaan yang berbeda setiap berada di dekat lia dan tatapan mata itu. tatapan kosong, tidak ada perasaan Bahagia ataupun senang. Dan gio ingin sekali mengenal lia lebih dalam, ia ingin jadi orang yang bisa membuat orang di sekitar nya senang.

Maka ia bertekad untuk membuat lia senang juga berharap bisa melihat senyuman itu setiap saat.

Setelah obrolan singkat antara lia dan gio, mereka masing masing diam, menikmati udara sejuk di bukit ini.

Athalia [ √ ] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang