8. A Glass of Wine

203 34 2
                                    

Bel unit apartment Abel berbunyi ketika dia sedang memasak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bel unit apartment Abel berbunyi ketika dia sedang memasak. Lantas wanita itu mematikan kompornya lalu bergegas melihat siapa yang datang.

"Eh Brian, ada apa?"

Pria dengan 3 botol wine di pelukannya itu menyapa, "Gue ada wine, minum yuk?"

Dan kembali, tanpa adanya persetujuan dari sang empunya, Brian masuk begitu saja ke dalam unit Abel.

"Gue habis balik konser dari Singapore. Disana gue beli banyak wine, sayang aja kalo diminum sendiri. Nih dua botol buat lo"

"Oh... jadi ini maksud lo tadi nanyain gue pulang jam berapa?"

Brian menyunggingkan senyumnya.

Abel terhenyak ketika dia menyadari bahwa dirinya tadi sedang memasak, "Gue nyambi masak ya, lo duduk aja dulu."

"Santai aja. Lo masak apa? Smell good!"

"Pasta. Lo mau? Kalo iya gue double in nih masaknya."

"Gue sih kalo ada rejeki di depan mata gak bakalan gue tolak."

"Oke deh. Kalo mau minum ambil sendiri ya gelasnya disitu." suruh Abel, menunjuk nakas di sebelah meja makan dengan spatulanya.

Aroma semerbak bawang putih dan cabai memenuhi seisi ruangan ketika Abel mulai menumisnya di minyak panas.

Perut Brian tak bisa berhenti bergeru, seolah-olah ada yang memukul-mukul dinding lambungnya.

Beberapa menit berlalu kini telah tersaji dua piring pasta dengan asap mengebul di depan Brian.

Dari tampilannya cream pasta itu terlihat sangatlah menggoda baginya.

Brian langsung memakannya dengan lahap selepas Abel mempersilahkannya.

"Enak banget masakan lo!" ucap Brian seraya memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya.

"Ah peres, bilang aja lo laper. Btw makasi ya winenya."

"Iyaa, kalo lo mau lagi bilang aja, stok gue masih banyak."

"Lo ke Singapore niat konser apa niat jadi juragan wine?" ejek wanita itu.

"Sekalian tau, yang merek ini disini mahal banget, di sana harganya bisa setengah sen–" perkataan lelaku ity terputus ketika Abel membawa piring bekas makan Brian beserta dengan piringnya yang dia tumpuk pmbersamaan, "Eh gue aja yang nyuci!"

Abel tidak menghiraukan permintaan Brian, diletakannya piring-piring tersebut ke dalam beserta sendo garpunya ke dalam wastafel dan jemudiab mengguyurnya dengan air.

"Gausah gapapa. Lo duduk aja."

Direbutnya piring dari tangan Abel, "Lo kan tadi udah masak, jadi gantian yang nyuci gue." titah Brian.

"Oke deh kalo itu mau lo. Thankyou"

Kini Abel terduduk di kursi pantri. Dengan bola matanya yang melihat lekat kearah punggung seorang laki-laki yang sedang mencuci piring di depannya.

Laki-laki itu adalah Brian. Bassist dari grup band nomor 1 di Indonesia, yang terkenal juga dengan tingkat kecerdasan dan ketampanan diatas rata-rata. Bohong jika Abel tidak tahu siapa dia.

Walaupun begitu Abel tetap merasa bahwa Brian adalah orang asing baginya, yang tiba-tiba datang begitu saja dikehidupannya yang tidak menarik ini.

"Lo asli sini?" pertanyaan Brian itu pun sukses membuat lamunan Abel terpecah.

"Gue? Hmm gue asli Surabaya." jawabnya ragu.

"Bararti orang tua lo masih tinggal disana?"

Deg— Seketika itu juga jantung Abel serasa behenti berdetak.

Pertanyaan Brian membuat ingatan luka lamanya muncul kembali. Ingatan yang berusaha dia kubur dalam-dalam. Bahkan jika bisa, ia ingin sekali untuk hilangkannya.

Ingatan... Ingatan tentang orang tuanya.

"Bel?" panggil Brian, "Kok bengong?"

•••

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

How was the story guys?Don't forget to vote and comment ya!See you on next chapter! ❤️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

How was the story guys?
Don't forget to vote and comment ya!See you on next chapter! ❤️

Get Into | DAY6Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang