Tanpa-nya

511 133 68
                                    

Setelah baca komen-komen kalian di chapter kemarin aku terharu banget ternyata pesanku di cerita ini bisa sampai ke kalian 🥺💕

Terima kasih banyak juga buat perhatian kalian dan semangat yang kalian berikan buat aku. Bener deh berarti banget buat aku. Semoga doa-doa dari kalian juga berbalik untuk kalian ya supaya kita sama-sama bisa hidup dengan baik, sehat, dan bahagia 🤗❤️


Happy reading!^^



~°~°~

Sorot matahari yang masuk dari jendela kamar mengusik Jung (Y/n). Namun wanita itu tak benar-benar tidur. Sejak semalam kepalanya dilanda pening luar biasa, efek dari flu dan tangis yang tak juga berhenti. Seluruh tubuhnya nyeri kemarin, tetapi hari ini sempurna kaku.

“J—jj—” Wanita itu berusaha mengeluarkan suara, memanggil sosok lain yang mungkin saja berada di rumah itu selain dirinya. Meski kemungkinan besar tidak karena setelah pertengkaran kemarin keduanya sama-sama mengunci diri di kamar. Kemudian di sore hari ia mendengar suara mobil keluar dari halaman rumahnya dan tak terdengar kembali. Lagi pula sekalipun Jeonghan ada di rumah, ia tak sanggup memanggilnya.

“Uhuk! Uhuk!”

Alih-alih berhasil menyebut nama Jeonghan, wanita itu malah terbatuk. Tenggorokannya serat dan panas.

Wanita itu menghela napas berat. Ia menarik selimut, menutupi tubuhnya yang menggigil. Berusaha mengurangi dingin yang menusuk. Namun rasa-rasanya tak ada yang bekerja.

Tubuhnya sudah mulai bereaksi sejak kemarin. Bukannya beristirahat dan minum obat, ia malah menangis seharian. Ia melupakan makan. Bahkan tak ingat kapan terakhir kali minum sampai rasanya kering sekali.

Kesulitan bergerak, wanita itu memutuskan untuk kembali tidur. Entah sudah berapa lama. Mungkin satu atau dua jam. Mungkin juga baru sepuluh menit. Ia tidak tahu ... rasanya ia tak benar-benar tidur.

“Hatchi!”

Tidak hanya batuk, kini tubuhnya mulai bersin-bersin. Wanita itu merasa keadaan memburuk setiap detiknya. Jelas ia tak bisa merawat diri sendiri di saat seperti itu.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, wanita itu meraba samping bantal. Berusaha menemukan ponsel. Ia membuka kunci, namun sinar yang dipancarkan ponselnya terlalu kuat. Membuat mata dan kepalanya sakit.

Wanita itu memejamkan mata. Jemarinya berusaha bergerak menuju fitur kontak sekenanya karena ia tak sanggup menatap layar.

Ia harus menghubungi siapa pun.



Tut ... Tut ... Tut ....


Suara sambungan telepon membuatnya sedikit merasa lega. Meski tak tahu siapa, paling tidak ia berhasil menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.

“Hallo, (Y/n)? Ada apa?”

Wanita itu memejamkan mata. Berusaha mengumpulkan tenaga untuk bicara.

“M—Ming—uhuk! Uhuk!”

“Loh, apa kau sakit?”

“Hatchi!”

“(Y/n), apa kau baik-baik saja?!”

“Hatchi!”

Wanita itu ingin sekali menjawab. Namun jangankan untuk itu, berhenti bersin dan batuk saja ia tak sanggup.

Minghao, pria yang tanpa sengaja dihubunginya itu beberapa kali melontarkan pertanyaan. Ia tak menjawab satu pun di antaranya, tidak pula menutup telepon. Ia hanya mampu batuk, bersin, dan menggigil sampai akhirnya telepon itu terputus dengan sendirinya.

Khianat [Seventeen Imagine Series]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang