11

1.4K 104 21
                                    

Matahari sudah kembali ke peraduan. Segerombolan burung mengepakkan sayap mereka,  menukik tajam menghalau sinar langit berwarna jingga.  Sepersekian detik sebelum akhirnya cahaya kembali menerpa wajah Maya. 

"Bahkan burung pun tahu kapan harus pulang." Racau Maya.

Maya bersandar di perbatasan rooftop rusun. Tangan merogoh sesuatu di balik saku celananya. Sebatang tembakau yang terbungkus kertas, dinyalakannya pemantik api hingga menyulut ujung tembakau. Maya menghisap tembakau, like it wasn't her first time. Terlihat seperti pemain handal, hembusan pertama terlihat biasa. Hisapan kedua masih terlihat normal. Hisapan ketiga...

"Uuuhuk...uhuk...uhuukkk! Sialan!" Maya melempar puntung tembakau dan menginjaknya hingga hancur.

Yap, Maya bermusuhan dengan rokok dan sejenisnya. Tidak peduli berapa kali ia mencoba, hasilnya tetap sama. Tubuhnya secara reflect menolak asap mematikan itu berkunjung ke paru-paru. Maya hanya mencoba mengukur toleransinya terhadap asap tembakau, nyatanya ia hanya bertahan hingga hisapan kedua. Selebihnya? Sepertinya tidak perlu dijelaskan lagi.

Maya berpindah posisi menjadi duduk di pinggiran pembatas gedung. Kedua kakinya menjuntai, salah gerak sedikit saja maka Maya akan berpindah dimensi. Dipandanginya langit yang berubah hitam kelam, tugas matahari sudah selesai hari ini. Ini saatnya matahari menerangi belahan bumi lainnya.  Perlahan tapi pasti titik-titik cahaya bermunculan dari gedung tinggi, lampu kendaraan dan rumah-rumah.

Lautan manusia berlomba-lomba pulang. Jalan raya ibu kota dipenuh kendaraan, traffic jam yang tidak lagi asing bagi Maya, klakson yang bersahutan disertai teriakan dan makian. Bus yang penuh sesak, bahkan penumpang MRT yang berdiri berhimpitan karena tidak kebagian tempat duduk.

Manusia adalah makhluk egois, seperti yang pernah Maya saksikan. Penumpang MRT tidak peduli kursi apa yang ia duduki.  Kursi prioritas khusus ibu hamil, lansia dan kursi roda. Alhasil Seorang ibu hamil besar terpaksa berdiri dihadapannya. Tatapan mencemooh yang dilayangkan oleh penumpang lain dianggap seperti angin lalu baginya. Ia hanya sibuk menunduk menatap layar ponsel pintarnya, menulikan indra pendengaran dari bisik-bisik  penumpang kereta. Sungguh memalukan, otak nya malah kalah pintar dengan ponsel yang ia gunakan. 

Manusia memang makhluk egois, sifat itu tidak akan pernah hilang. Tapi manusia bisa belajar mengendalikannya, itu semua kembali lagi kepada diri sendiri. Mengendalikan atau dikendalikan.  Apa kedudukanmu saat ini? Mengendalikan atau justru sebaliknya?

Getaran dari saku membuyarkan lamunan Maya. Dirogoh nya benda pipih berlogo apel cacat. Dom mengirim beberapa file.

Download file

Download file

Download file

Thanks

Jangan berterima kasih padaku

Jangan berterima kasih padaku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AGENT 111 [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang