34

2.2K 163 16
                                        

Udara malam yang dingin membuat Cia mengeratkan pelukannya ke Radit mencari kehangatan.

"Daddy apa kita akan naik pesawat lagi?" Ujar Cia dengan kepalanya bersandar di pundak Radit.

"Cia ingin pulang?" Tanya Radit yang dibalas gelengan Cia.

"Kalau begitu maka kita tidak akan naik pesawat." Balas Radit.

"Tidak sayang, kita harus pulang." Imbuh Maya yang diperuntunkan untuk Cia.

"Tapi Cia masih ingin disini Mommy!" Rengek Cia.

"Cia tidak rindu dengan Papa?" Rayu Maya.

"Daddy, Cia belum mau pulang." Cia mengadu pada Radit.

"Ay." Radit menghentikan langkahnya, tangan kanan menahan berat Cia di gendongannya. Sementara tangan Kiri menggenggam jemari Maya, mereka jalan menikmati suasana malam hari.

"Dit, Juna akan segera pulang. Dia akan menggila jika tidak menemukan aku dan Cia di rumah. Lagipula aku belum mempersiapkan acara..."

"Ulang tahun Cia?" Potong Radit.

"Darimana..." Maya menatap Radit kaget, Radit menggenggam erat tangan Maya. Mereka kembali melanjutkan langkah.

"Darimana aku tahu? Ay, Cia putriku." Radit tersenyum manis.

"Kupikir kamu tidak akan memperdulikan hal kecil seperti itu, seperti halnya dirimu dahulu." Tutur Maya, dirinya tidak sepenuhnya salah. Karena Radit yang dulu akan lebih memperhatikan Zalina dibandingkan orang-orang disekitarnya termasuk Maya.

"Hahahaha benarkah?"

"Tidak ada yang lucu, kenapa tertawa?" Sinis Maya.

"Itu artinya kamu tidak cukup cermat mengamatiku Ay." Senyum di wajah Radit perlahan memudar.

"..." Maya menatap Radit bingung.

"Lupakan saja Ay, hal kecil itu sudah tidak penting lagi untuk kita bahas." Radit menghentikan langkah kakinya.

"G-L-A-C-I-A-R..." Cia menegakkan kepalanya, mengeja logo outlet menarik perhatiannya yang tengah ramai pengunjung.

"Ini hadiah buat Cia, anggap saja early birthday present dari Daddy. You like it?" Tanya Radit pada Cia.

"I don't like it, I love it! Turunin Cia Daddy! Cia mau kesana!" Cia menggeliat dari gendongan Radit, Radit menurunkannya perlahan. Cia berlari memasuki toko miliknya dengan senang.

Radit menggandeng Maya memasuki Glaciar, duduk di tempat khusus yang telah disiapkan untuk mereka.

"Dit..." Maya menatap Radit menuntut penjelasan.

"Iya, aku sengaja bawa kalian ke Bali sebagai alasan. Karena aku tahu jika aku menjelaskan terlebih dahulu maka, kamu pasti langsung menolak Ay."

"Harusnya kita stay beberapa hari lagi bahkan terbang ke kota-kota lainnya untuk pembukaan cabang baru." Sambung Radit.

"Kamu buat cabang Glaciar?" Maya pikir Radit hanya membuat satu Glaciar, di Bali saja.

"Iya, tidak banyak. Hanya buka di beberapa kota besar di Indonesia, kedepannya aku ingin Glaciar ada di seluruh dunia. Dengan begitu putriku bisa menikmati ice cream miliknya sendiri." Jelas Radit tanpa beban.

"Dit bukannya itu terlalu berlebihan?"

"Tidak ada yang berlebihan Ay, itu hanya perhatian kecil yang aku berikan untuknya."

"Sekarang Cia sudah lihat Glaciar kan? kamu masih ingin di Bali? terserah Dit, aku tidak masalah. Tapi kami tetap harus pulang ke Seoul malam ini, dengan atau tanpa dirimu."

AGENT 111 [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang