27

1.7K 165 28
                                    

Dua orang yang sudah berusia lanjut sedang berbincang di depan ruang introgasi. 

"Pak Hermawan, sudah lama tidak berjumpa.  Bagaimana kabar putri anda? Saya dengar sudah mau wisuda?" Pria tua menjabat tangan pria bernama Hermawan.

"Iya sudah mau selesai. Kalau bukan karena bantuan dari Pak Rasyid, belum tentu anak saya bisa di lolos di Universitas luar negeri. Semua berkat bapak!" Hermawan membalas jabatan tangan pria bernama Rasyid.

"Hahahahah...Pak Hermawan bisa saja! Bukankah teman lama harus saling membantu?" Rasyid menunjukkan wajah jenakanya.

"Betul sekali Pak Rasyid! Saling membantu Hahahahah..." Hermawan tertawa.

"Bagaimana dengan titipan saya pak Hermawan?" Rasyid tersenyum lebar memandang Hermawan dengan tatapan penuh arti.

"...dia di dalam." Ujar Hermawan, pria berseragam dengan tanda pangkat tinggi.

"Saya tinggal dulu, hubungi saya bila anda perlu bantuan lainnya!" Hermawan menepuk pundak Rasyid pelan.

"Itu bisa di atur...hahahah." sepeninggalan Hermawan, Rasyid memasuki ruang introgasi. Dirinya memberi kode di balik cermin yang ada di ruangan, petugas yang berada di balik kaca mematikan rekaman cctv dan rekaman suara.

Rasyid duduk di hadapan pria berbaju tahanan, dengan kedua tangan terborgol di atas meja. Pria itu menunduk, sebelum akhirnya balik menatap Rasyid.

"Hai, long time no see. Kapan terakhir kali kita bertemu? Hmm lima tahun? Enam?" Ujar Radit memajukan tubuhnya.

"Tujuh tahun." Jawab Rasyid membenarkan.

"Ahh benar, kasus bocah ingusan itu ya?" Radit kembali bersandar di kursinya.

"Ya, anda menghajar ya hingga hampir mati."

Rasyid mengingat kasus yang lumayan membuatnya kerepotan kala itu, Radit di usia remajanya memang sering menyebabkan banyak masalah. Salah satunya adalah ketika ia menghajar teman sekelasnya hanya karena menyukai wanita yang Radit anggap miliknya.

Sebenarnya membungkam keluarga Korban tidaklah sulit namun, kala itu seorang polisi bersikeras membongkar kasus Radit, Untungnya Rasyid berhasil membuat polisi itu berhenti untuk menyelidiki lebih jauh. Rasyid membuka lembar berkas yang diberikan Hermawan, membacanya sekilas kemudian menutupnya.

"Kami bisa membantu Anda, tetapi dalam kasus ini. Anda masih akan menjalani hukuman minimal 7 tahun penjara. Hanya itu yang bisa kami lakukan untuk membantu Anda menghindari hukuman mati." Rasyid berbicara dengan tampang serius.

"..." Radit terlihat tidak tertarik.

"Berhentilah bermain-main, menjual narkoba? Anda tidak semiskin itu. Menculik wanita? Apakah dia gadis yang sama di sekolah menengah? Dan saya mendapat laporan dari bawahanku, anda membunuh dua puluh dua wanita? Untuk apa?" Rasyid menggeleng pelan melihat kelakuan pria di depannya.

"Aku hanya bersenang-senang." Radit menyeringai.

"..." Rasyid speechless.

"Katakan pada lelaki tua itu untuk mempersiapkan posisiku!" Ujar Radit tenang, Rasyid menatap penuh arti ketika Radit menyebutkan kakeknya.

"Kami memang memikirkan perihal itu, sudah waktunya anda untuk mengambil alih posisinya." Rasyid bangkit dari duduknya, merapikan jas miliknya berlalu meninggalkan Radit.

"Tolong aku, temukan seseorang! Ketika aku keluar, aku akan membuatnya menyesal atas semua yang telah dia lakukan." Lagi-lagi Radit menyeringai, Rasyid menatap ngeri wajah tampan Radit yang lebih menampilkan aura iblis.

AGENT 111 [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang