37

1.7K 157 33
                                    

Cia mengerjapkan mata, pengelihatannya terhalang sesuatu atau lebih tepatnya kepala Cia dibungkus kain hitam.

Cia mencerna keadaanya saat ini, ingatan terakhirnya ia membuka pintu rumah. Ternyata yang datang bukanlah Papa maupun Daddynya. Pria asing itu menutupi hidungnya dengan kain berbau menusuk yang membuat Cia kehilangan kesadarannya.

Meski sedikit sulit, Cia tetap menyesuaikan pandangannya yang remang melalui celah-celah kain. Cia bergerak berusaha melepaskan kain penutup kepalanya tetapi kedua tangannya terikat di punggung, Cia menggerakkan kakinya yang ternyata juga ikut terikat. Tidak hanya itu, mulut Cia bahkan terutup lakban.

Cia terdiam kaku saat bayangan hitam mendekatinya, sepertinya mereka melihat pergerakan Cia.
Bayangan itu semakin mendekat, Cia menutup erat kedua matanya. Sosok itu ternyata membuka kain penutup kepala Cia setelah itu berlalu pergi.

Cia membuka matanya perlahan, menyesuaikan dengan cahaya lampu. Cia kaget ternyata dirinya berada di dalam jeruji besi, lebih tepatnya seperti kandang anjing berukuran sedang.

Cia mengedarkan pandangannya mengamati sekitar. Ia melihat Pria-pria besar berwajah menyeramkan, wajah asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Cia tidak melihat pria yang menculiknya, lagipula kenapa Cia harus memperdulikan hal itu.

Mereka terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak dapat dipungkiri bahwa Cia merasa takut dengan apa yang terjadi padanya saat ini, Cia menyadari bahwa dirinya merupakan korban penculikan.

Cia hanya bisa diam, selain karena mulutnya yang ditutup ia juga tidak berniat berteriak dan membuat keributan. Berteriak dan memberontak hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Setidaknya disaat seperti ini ia masih mengingat pesan dari Mommy nya.

'Mommy, apa yang harus Cia lakukan jika Cia diculik oleh orang jahat?'

'kalau Cia diculik, Cia harus tetap tenang. Karena kalau Cia terlalu berisik, mereka akan lebih menyakiti Cia.'

Cia membayangkan betapa paniknya Mommy ketika Cia menghilang. Seharusnya hari ini menjadi hari yang membahagiakan bagi Cia. Seharusnya ia meniup lilin, tertawa bahagia dikelilingi Mommy, Daddy dan juga Papanya.

Tidak terasa matanya berkaca-kaca, Cia mengerjapkan matanya agar tidak jadi menangis. Cia yakin Mommy, Daddy serta Papanya pasti mencarinya.

Cia kembali fokus memperhatikan setiap detail tempatnya di culik. Ruangan besar dengan langit-langit yang tinggi diterangi oleh lampu gantung yang cukup terang. Di langit-langit bangunan terdapat kaca yang memperlihatkan pemandangan langit malam serta bintang, itu artinya Cia berada di sini cukup lama.

Banyak kotak-kotak pengiriman yang tersusun rapi, beberapa rak tinggi dan ruangan ini memiliki dua lantai. Lalu ada satu kotak besar yang Cia tidak tahu pasti apa yang ada di baliknya karena kotak itu tertutupi kain.

Cia memperhatikan Pria besar menyeramkan tengah mengasah pisau, pria lainnya memoles senapan laras panjang, ada yang mengisi amunisi di senjatanya ada pula yang tengah berjaga dengan persenjataan lengkap.

Derit pintu serta derap langkah kaki yang mendekat membuat semua pria besar terdiam kaku. Menciptakan keheningan yang mencekam. Mereka semua menatap ke arah Cia, lebih tepatnya ke arah pintu di belakang kandang yang mengurung Cia. Cia tanpa sadar ikut menahan napasnya.

Langkah kaki itu berhenti di tengah ruangan, tempat para pria menyeramkan berada. Cia menatap punggung pria tua, tato kepala naga yang terpampang jelas di kepala botaknya menarik perhatian Cia.

"Good job!" Pria tua itu menepuk pundak Pria menyeramkan.

Sosok itu berbalik badan hingga Cia bisa melihat jelas wajahnya. Pria tua yang terlihat lebih tua dari Granpa nya, hanya saja ia tidak memiliki rambut.

AGENT 111 [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang