17

1.3K 99 0
                                    

Satu bulan berlalu, sikap Maya masih dingin jika berdua dengan Radit. Namun ketika berada di keramaian maka Maya akan bertingkah sangat manis pada Radit.

Sikap Radit tetap sama, terutama mulut tajamnya. Lagi pula siapa yang bisa merubah sikap seseorang? Jawabannya hanya satu, yaitu tidak ada! Sifat, sikap, perlakuan, kebiasaan dan lain sebagainya tidak akan bisa dirubah oleh orang lain kecuali diri sendiri. Bahkan pasangan! Jadi jangan harap anda bisa merubah pasangan.

Maya berjalan melewati Radit. Hari Masih terlalu pagi untuk kedatangan pelanggan. Tapi kenapa Radit sudah masak? Ah kenapa Maya harus penasaran? Tapi Maya tidak menyangkal bahwa harum masakan Radit begitu menggoda. Apalagi Maya jarang sarapan pagi, kebiasaan buruknya disini. Biasanya di tempat asalnya Maya akan sarapan meski sekedar sereal dan susu atau roti bakar. Benar juga! Maya sudah lama tidak makan makanan western, semenjak disini Maya selalu makan makanan lokal.

"Heh Ayam!" Teriak Radit.

Maya memutar bola matanya jengah. Pria itu mulai memanggilnya dengan panggilan Ayam semenjak pulang dari pasar tepatnya sebulan yang lalu. Maya menoleh malas pada Radit. Maya memberi isyarat dengan menunjuk dirinya sendiri.

"Tentu saja bodoh! Kemari!"

"Huhhh...apa lagi?" Maya menghampiri Radit dengan tidak bersemangat.

Maya mengintip masakan Radit yang Masih menggepul di dalam wajan, nasi goreng dan telur dadar di piring lainnya. Radit menyendokkan nasi gorengnya menggunakan sendok makan. Diarahkannya ke mulut Maya.

"Apa?" Tanya Maya.

"Aaaa..." Ujar Radit ikut memperagakan agar Maya membuka mulutnya.

"Apasih?"

"Buruan!" Ketika Maya membuka mulutnya detik itu juga Radit menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut Maya.

"Mhasihh vannassh..." Maya mengipas-ngipas mulutnya yang terbuka, makanan yang Radit suapkan masih sangat panas terbukti dari asap yang keluar dari mulut Maya. Alhasil hanya setengah suap yang berhasil masuk ke mulut Maya.

"Manja!" Radit melahap nasi goreng yang masih tersisa di sendok bekas Maya. Radit mengangguk mencerna rasa.

Maya menelan makanan di mulutnya. Dia terperangah ketika Radit memakan di sendok yang sama bekas dirinya. Apa Radit tidak merasa jijik?

"Gimana? Udah pas?"

"Enak." Jawab Maya singkat.

Mendengar jawaban dari Maya, Radit memindahkan masakannya ke dalam kotak makan. Tidak lupa menghias dalamnya. Maya mengintip kemudian menyesal setelahnya. Tahu gitu lebih baik dia menolak saja tadi. Maya berlalu pergi dari dapur menuju ke depan tempat Siti dan Deliana berada. Radit melepaskan apronnya dengan bersemangat berjalan menaiki tangga menuju ruangan Zalina. Siti, Maya dan Deliana menatap kepergian Radit.

"Kenapa tuh?" Siti menyenggol lengan Maya.

"Biasalah!" Ujar Maya malas.

"Nanya mulu deh! Nggak lihat itu dia bawa apa dan tujuannya kemana?"

"Iya juga!" Siti menepuk jidatnya.

"Dah kerja! Kerja!" Ujar Maya menyadarkan Siti dan Deliana untuk kembali bersih-bersih Maya juga ikut membantu.

---

'tok...tok...tok'
(pintu di ketuk dari luar)

"Masuk!"

"Selamat pagi cantik!" Radit menyapa dengan senyuman lebar nya.

"Pagi...kenapa? Ada masalah di dapur? Atau ada yang kurang?"

AGENT 111 [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang