"Radit..." Maya mengantongi ponselnya ke dalam saku celana.
"Pulang!" Ucap Radit datar.
'what? Apa pria itu sedang mabuk? Ada angin apa dia mengajak pulang bersama? Atau Maya yang sedang berhalusinasi? Iya kan? Sepertinya Maya harus menemui psychiatrist!'
"Ya?" Maya bertanya hanya ingin memastikan apakah benar Radit mengajaknya pulang, lagipula ia tidak ingin berharap terlalu tinggi yang bahkan berpotensi mempermalukan dirinya sendiri benar kan?
"Selain bodoh ternyata kau tuli? Hahaha...Kenapa tidak sekalian buta saja? Atau lumpuh? Ya lumpuh juga boleh! Terdengar bagus untukmu! Akan aku beri hadiah kursi roda, bagaimana?" Nada sarcasm keluar dari pria berwajah tampan tapi menyebalkan yang sayangnya berhasil mencuri hatinya.
"Dasar pria gila!" Kalimat kasar Radit sudah tidak asing di telinga Maya but then again, hanya ditujukan pada Maya saja. orang-orang tidak akan percaya jika Maya menceritakan sikap Radit yang satu ini.
"Gila adalah nama tengah ku!" Smirks andalan Radit tidak pernah gagal membuat hati Maya bergetar, rasanya ada kupu-kupu beterbangan di perutnya.
"Sedang apa kau kemari? Hanya ingin mengataiku bodoh? Lagipula pulang atau tidak bukan urusanmu!" Maya menertralkan mimik wajahnya agar ekspresi yang ia tampilkan tidak terlalu kentara bila ia terpesona dengan pria gila didepannya.
"Tentu saja menjadi urusanku. Jangan salah paham! Zalina tidak mau pulang ketika ia tahu kau masih disini. Cepat keluar! Kau ingin tetap berada di sini sampai malam? Aku tidak peduli, tapi pastikan Zalina tidak tahu!"
Maya semakin kesal ketika ia tahu alasan Radit menghampirinya. Zalina lagi! Zalina lagi! Apa hanya ada Zalina di kepala Radit? Perlukah Maya menjadi dokter bedah dan mengganti otak Radit dengan otak baru? Seperti karakter Patrick di serial kartun SpongeBob SquarePants?
Dengan cepat Maya melangkah namun ketika ia melewati pintu ruangan karyawan, sebuah tangan menghentikannya.
"Apa lagi?" Maya kesal.
Radit menunduk mendekatkan wajahnya kearah Maya. Jantung Maya berdegup, tubuhnya kaku. Maya sama sekali tidak berniat menghindar, ia hanya berharap Radit tidak bisa mendengar debaran jantungnya. Napasnya tertahan ketika jarak mereka sangat dekat. Radit menggeser wajahnya ke arah telinga Maya.
"Berniat menggoda hah? Lain Kali bercermin dulu! Milikmu kecil, sama sekali tidak menggoda." Bisik Radit, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Maya.
Maya menunduk melihat kemeja yang ia kenakan. Kerah yang terbuka tiga kancing menampilkan tulang selangka dan sedikit belahan dadanya. Sepertinya ia lupa mengancingkan ketika ia menerima panggilan Dom.
"Sialan!"
Muka Maya memerah menahan amarah. Kecil? Kecil katanya? Sangat tidak menggoda? Hei! Miliknya ini berukuran pas! Sialan! Awas saja! Akan Maya buat Radit tergila-gila dengan miliknya. Jika kemarin Maya berusaha melupakan perasaannya maka, mulai hari ini Maya bertekat membuat Radit hanya memikirkan dirinya. Akan Maya buat Radit menjilat ludahnya sendiri.
"May? Hello? Ada orang di dalam?" Siti mengetuk kepala Maya seperti mengetuk pintu.
"Ha?" Maya tersadar dari lamunannya.
"Ya...si Maya! Diajakin ngobrol dari tadi malah melamun."
"Ya maaf." tutur Maya.
"Gimana? Asik kan? Malam minggu memang paling benar tuh lihat cowok tampan, cuci mata. Tuh lihat sebelah sana cakep banget!" Ujar Siti sumringan.

KAMU SEDANG MEMBACA
AGENT 111 [TAMAT]
عاطفية*Spin-off My Baby* [Maya] Agent 111 "apa yang salah dengan jatuh hati pada target sendiri?" ~AGENT 111~ [Radit Novaldy] "Aku mencintainya dan ini bukan sekedar Obsesi...camkan itu!" ~MR.X~ Radit gagal menjadikan Zalina miliknya, ia tertangkap oleh a...