Happy Reading.
***
5 April 2012, 10:04 AM, New York, Amerika Serikat.
Seorang wanita dari tim kepolisian berlari menghampiri Dita yang sedang menghela nafasnya lelah sambil duduk di sofa kamar hotel Jenny dan Amelia.
"Nona! Saya sudah mengecek di laboratorium kantor dan hasilnya positif kopi itu mengandung Sianida! tetapi tim kita belum bisa mengetahui merek apa Sianida yang meracuni Jenny dan Amelia" ucap polisi wanita itu memberikan bukti berbentuk surat lab.
Dita kembali menghela nafasnya sambil membaca surat yang membuat darahnya mendidih. Entahlah dia sangat dibuat bingung dengan kasusnya kali ini, percobaan bunuh diri atau kedua sahabatnya ingin dibunuh oleh orang lain?.
"Rita, bawa kopi itu kerumah sakit yang menangani mereka agar bisa di uji dalam laboratorium kedokteran. Anda dan tim terus mencari bukti-bukti lain disini, saya akan membawa para saksi ke kantor utama untuk di mintai keterangan." ucap Irham setelah dia membaca surat itu juga.
"Baik pak" jawab Rita menunduk pelan kemudian ikut bergabung pada timnya yang sedang memeriksa seluruh sudut TKP.
Irham melipat surat itu memesukinya ke dalam kantong jaketnya, ia berjalan keluar namun langkahnya terhenti saat ia tak merasakan adanya pergerakkan di belakangnya, ia berbalik.
"Eh anak baru! Kamu mau ikut saya atu tidak?"
Dita memutar matanya seraya bangkit dari duduknya "Inget ya bang saya sudah bergabung selama 2 bulan berarti saya bukan anak baru lagi!" geram Dita.
"Te...."
Ucapan Irham terputus oleh suara dering telpon yang berasal dari ponsel Dita.
Dita merogoh kantong jaketnya, ia langsung mengangkat telponnya saat melihat siapa yang menelponnya.
"Hallo Laura, kenapa?"
Suara pertama kali yang menyapa telinganya adalah tangisan Laura yang ia yakin wanita itu tidak bisa menahannya.
"Jenny dan Amelia kritis Dit"
Saat mengatakan itu tangis Laura semakin pecah, Dita sendiri panik mendengar berita yang di sampaikan sahabatnya.
"Laura lo tenang ya, gue akan kerumah sakit setelah menjemput keluarga Haque" ucap Dita mematikan telponnya.
Dita memang sudah berniat kerumah sakit karna Regi ayahnya Jenny akan segera sampai di New York sebentar lagi.
"Saya akan menjemput Tuan Regi Ozamah Haque dan Lady Vania Haque di bandara, 10 menit lagi mereka akan landing" ucap Dita.
Irham melongo mendengar nama yang disebut wanita di depannya ini "Regi Ozamah? Lady Vania? jangan bilang?..."
Dita mengangguk sedikit menyeringai "Ya, mereka orang tua kandung Jenny. Abang bayangin deh tuh gimana nanti pas Robert bertemu Regi" cibir Dita, ini yang sedari tadi ia pikirkan hingga membuat kepalanya ingin pecah.
"Jaga ketat mereka, jangan sampai ada pertumpahan darah" ucap Irham masih syok dengan kenyataan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, ia pikir Jenny hanyalah anak dari keluarga kecil di Indonesia namun ternyata di luar ekspetasinya.
Dita menaruh tangannya di depan dahi "Siap bang saya usahakan yang terbaik!" ucapnya hornat.
Irham mengangguk pelan sambil menggerakkan dagunya penunjuk pintu keluar seperti mengusir lewat bahasa tubuh.
Dita memutar matanya dan bergegas meninggalkan TKP, jika Irham bukan atasannya mungkin sudah ia tembak dahinya.
Wartawan langsung mengelilingi Dita saat wanita itu sudah mencapai luar hotel, berbagai pertanyaan menyapa telinganya beruntung beberapa anak buah Regi bisa menangani para wartawan yang haus akan berita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Forever With You (End)
RomanceThrowback 2011 - 2013. "Ketika racun adalah jawabannya." JENMEL FANFICTION. WARNING GxG.
