33 | Dokter Muda

43 7 7
                                    

"Ada yang bilang, uang adalah segalanya. Karena semuanya memerlukan uang. Tapi ada yang tidak bisa dibeli oleh uang, itu adalah waktu."


Waktu terus berjalan tanpa jeda. Tanpa bisa menghentikannya walau satu detik lamanya. Waktu juga tidak bisa diajak bernostalgia ke hari lalu, yang bisa hanyalah ingatan. Namun, jika ingatan terus diputar ke sebuah kenangan, maka yang terjadi kita akan kehilangan waktu saat ini.

Percaya tidak percaya, waktu akan cepat berlalu jika kita dapat menikmati setiap moment yang terjadi. Begitu pun sebaliknya. Itu yang Keina rasakan, rasanya baru saja kemarin dia mendaftar kuliah namun hari ini dia akan menyelesaikan semuanya. Keina sudah mengatakan keinginannya untuk lulus cepat kepada dosen, keinginannya pun diterima, mengingat Keina adalah anak yang pandai. Dia dapat menyelesaikan semua tugas dan ujian dengan mendapat nilai yang terbaik. Presentasinya selalu bagus dan mudah dipahami oleh semua mahasiswa. Keina hanya memerlukan satu sertifikat lagi untuk membuat dosen menyetujui keinginannya.

"Yok!" ajak Bianca antusias. Tetapi langkahnya terhenti kala matanya menangkap Keina yang masih mematung dengan tatapan sedih.

"Lo kenapa, Na?" tanya Bianca sambil melangkah mendekati Keina.

"Aku cuma sedih aja, sebentar lagi kita bakalan pisah. Padahal rasanya baru beberapa hari kita deket, eh udah mau pisah aja," ucap Keina dengan tidak bersemangat.

"Aaa ...! Sini peluk." Bianca memeluk erat Keina, begitu pun dengan Keina.

"Jangan sedih, dong. Gue janji kapan-kapan gue bakalan main ke Jakarta, deh. Tapi nunggu lulus dulu. Gue mau fokus kuliah biar bisa nyusulin lo," ucap Bianca cengengesan. Bianca sudah dua kali mengajukan lulus cepat kepada dosennya, tetapi dosen tersebut menolak karena ada beberapa persyaratan yang belum bisa Bianca penuhi. Bianca tidak berkecil hati, dia sangat yakin jika dirinya akan lulus tahun depan.

"Bener, ya. Aku tunggu kamu, sambil aku kenalin kamu juga sama Talitha."

"Iya, udah ayok! Ngemeng mulu ntar nggak jadi lulus cepet lo." Bianca membalikkan tubuhnya, berjalan cepat menuju aula. Tak ingin tertinggal, Keina mengikutinya dari belakang.

Seperti biasanya, Aula terisi penuh oleh peserta. Untungnya, Keina dan Bianca masih mendapat tempat untuk duduk. Keina mulai mengamati sekitar, dadanya terasa sesak, dia pasti akan merindukan suasana ini. Terlebih Bianca, dia banyak membantu Keina, dari transportasi hingga skripsi. Tetapi itulah kehidupan, selalu ada yang berlalu lalang. Tidak pernah menetap pada satu tempat.

"Sedih lagi? Yaelah baperan amat."


Ini anak hatinya terbuat dari apa, sih? Nggak ada lunak-lunaknya."

Keina menghela napas. "Bisa diem, nggak?"

"Iya, deh iya. Sok atuh lanjutin aja sedihnya. Nikmatin ya, Bund," ucap Bianca menggoda Keina.

"Selamat sore semuanya," sapa seseorang yang berada di paling depan---moderator.



Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Tepat pada hari Senin, 23 Mei 2016 Keina telah melaksanakan wisuda. Keina telah lulus, meskipun tidak menjadi lulusan terbaik namun dia bersyukur karena bisa lulus kuliah dalam waktu tiga tahun setengah. Keina juga telah sah menjadi seorang dokter, bahkan dia langsung mendapat tawaran bekerja di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta. Mengagumkan, bukan?

"Cie, yang udah jadi Bu Dokter."

"Makasih, Tha. Eh, makasih juga kamu udah rela jauh-jauh dateng ke sini," ucap Keina penuh haru.

"Makasih juga Ayah, Bunda, Kak Zein, Keina nggak nyangka kalo kalian bisa sekompak ini ke acara wisuda Keina," lirih Keina. Tanpa sadar, matanya mengeluarkan air mata. Dia begitu terharu.

Winda dan Arya pun turut terharu, mereka mengusap puncak kepala Keina. Keduanya begitu bangga melihat putri bungsunya telah mengabulkan keinginan mereka untuk menjadi seorang dokter.

Di tengah tangisan bahagia, dari dalam kampus tampak seorang gadis tomboi mendekati mereka dengan penuh percaya diri.

"Congrats, Keina! Gue bangga banget punya sohib sepinter lo! Semoga aja nular ke gue. Aamiin," Bianca berhenti terbahak, menyadari orang-orang di sekitarnya menatapinya aneh. Bianca meringis dan menggaruk tengkuknya.

"Hai Om, Tante, Akang, Teteh," sapa Bianca sopan.

"Akang?" tanya Zein bingung.

Between Love And Ideals (TELAH TERBIT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang