01. Amanda Ruri Haryanto

11.6K 470 11
                                        

Suara mesin fotokopi, ketikan keyboard, dan lalu-lalang orang masih menjadi latar suasana di dekat kubikelnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara mesin fotokopi, ketikan keyboard, dan lalu-lalang orang masih menjadi latar suasana di dekat kubikelnya. Seorang gadis dengan rambut sepunggung itu memijat kening. Rasa pusing semakin mendera saat laporan yang dia siapkan selama dua hari itu, masih salah.

"Mbak Manda mau kopi? Mukanya kusut banget kayak orang ngantuk."

Gadis yang dipanggil Manda itu mendongak. "Nggak usah Mbak Nindi, saya nggak bisa minum kopi kalo pagi gini," katanya dengan sopan pada Office Girl yang baru saja menawarinya.

"Ya sudah, semangat Mbak Manda."

"Makasiii."

Amanda Ruri Haryono, staff Divisi Keuangan, begitulah identitas pada ID Card yang tersematkan di lehernya. Sudah bekerja selama satu setengah tahun, setelah lulus dari salah-satu Universitas ternama dengan predikat cumlaude.

"Masih pagi, loh, Man. Lo udah pusing aja," celetuk salah-satu teman satu kubikelnya yang bernama Kartika. Gadis dengan rambut coklat itu duduk di depannya.

"Diem lo, gue udah lembur dua malam, pokoknya malam ini gue mau tidur dengan nyenyak."

Begitulah keluh kesah seorang staff yang harus bekerja bagaikan kuda. Kata teman-temannya, Amanda terlalu fokus pada pekerjaan, sampai masih melajang di usianya yang mau genap 24 tahun.

"Amanda."

Mampus, gadis itu mendesis dalam hati. Panggilan itu berasal dari Manajer Keuangan yang sudah menunggu laporan yang dia buat.

"Pagi, Pak," sapanya saat laki-laki bertubuh menjulang itu sampai ke mejanya.

Refal Malik Ahmad; berwajah dingin, kurang senyuman, dan selalu serius. Belum lagi fitur wajahnya yang memilki rahang tajam dengan alis tebal. Menurut Amanda, wajah laki-laki itu tipe-tipe wajah pemeran antagonis di sinetron.

"Laporan yang saya minta kemarin, sudah siap?"

"Masih saya kerjakan, Pak."

Refal menatapnya lama, sedangkan Amanda sudah ketar-ketir duluan. Takut jika dia sampai kena semprot seperti teman-temannya yang lain. Refal memang tidak akan mengamuk, atau berlaku kasar, tetapi ....

"Sepertinya laporan itu sangat sulit buat kamu yang lulusan tiga setengah tahun."

Kimprit! Refal sialan, maki Amanda dalam hati. Sayangnya dia hanya bisa tersenyum miris saat dikatakan begitu. Jelas sekali laki-laki di depannya meragukan perjuangan dia selama kuliah dulu.

"Saya yang belum lulus kuliah saja bisa menyelesaikannya dalam waktu setengah hari."

Sungguh menyesakkan. Andai saja mereka masih SMA, Amanda sudah melemparkan sepatu ke kepala laki-laki itu. Ya, mereka memang berasal dari sekolah yang sama, bahkan satu kelas. Namun, Refal yang dia kenal dulu tidak semenyebalkan ini. Laki-laki itu termasuk anak pendiam dan cenderung menarik diri dari pergaulan.

Amanda [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang