women's series #2
Amanda, sarjana Manajemen yang lulus dengan predikat cumlaude. Namun, malah luntang-lantung tidak mendapatkan pekerjaan. Sampai suami sepupunya menawarkan pekerjaan di perusahaan temannya, sebagai staff di divisi keuangan.
Awalnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Isak tangis di kamar mandi lantai 2, membuat siapa saja yang hendak masuk ke sana akan mengurungkan niatnya. Padahal jam menunjukkan pukul 3 sore hari, tetapi tetap saja membuat bulu kuduk berdiri. Sementara pelaku yang kini terisak dalam salah satu bilik tidak tahu apa-apa.
Amanda, gadis itu menangis tersedu-sedu karena sangat sakit hati karena ucapan Refal. Gadis itu benar-benar tidak bisa terima, karena dia memang secara murni ikut tes bersama pelamar lainnya.
Meskipun terlihat ceria dan kadang-kadang mudah meledak-ledak karena emosi, pada dasarnya Amanda adalah gadis yang mudah menangis dan bisa dibilang cengeng. Menjadi anak tunggal dan selalu dimanja, membuatnya kadang tidak bisa menahan masalah seorang diri.
"Refal sialan. Awas aja lo kalo gue punya pacar kaya raya, gue jadiin lo babu," rutuknya yang sudah kesal sekali.
"Gue sumpahin lo-eh nggak boleh sumpahin, kata Bunda entar kebalik ke diri sendiri." Hampir saja Amanda lupa, akhirnya dia meralat, "pokoknya awas aja lo kalo sampai gue dapat pacar kaya, berkuasa, terus tampan kayak Pak Ilham, lo bukan apa-apa."
Setelah merasa mendingan, Amanda keluar dari bilik tersebut tanpa tahu apa-apa. Dia mematut dirinya sebentar di cermin, untuk memperbaiki make up yang luntur akibat menangis. Setelah itu baru keluar dari sana. Untungnya wajahnya bukan tipe wajah yang akan membengkak akibat menangis. Masalah pekerjaan? Persetan jika Refal bertanya mengapa dia sangat lama meninggalkan pekerjaannya. Jika bukan karena laki-laki itu, dia juga tidak akan menangis di sini.
"Dari mana aja lo?" tanya Kartika khawatir bercampur rasa ingin tahu sebab Amanda sampai melewatkan makan siangnya.
"Dari toilet."
"Lo dari toilet? Lo denger sesuatu nggak? Kata anak pemasaran, ada suara aneh di toilet, kayak isakan tangis gitu." Kartika berbisik, entah apa maksud dan tujuannya.
"Lo nggak denger, kan? Gue bilang juga apa. Mana ada hantu siang-siang gini. Anak pemasaran emang biang gosip, ada aja masalahnya," lanjut Kartika lagi. Sementara Amanda hanya diam sambil berpikir apa suara tangisannya terdengar sampai keluar sampai menciptakan gosip murahan seperti itu?
"Amanda."
Amanda mendongak saat suara dari orang yang dia benci itu masuk ke indra pendengarnya. "Ada apa, Pak?" tanyanya masih berusaha bersikap biasa aja, profesionalitas.
Namun, Refal malah menatapnya lama tanpa berbicara sehingga membuat Amanda kembali buka suara. "Maaf, Pak? Ada apa?"
"Tadi kamu yang catat hasil rapat, kan? Tolong kirimkan ke email saya, secepatnya," kata laki-laki itu sebelum akhirnya pergi dari sana. Refal, dengan mata elangnya bisa melihat bulu mata Amanda yang basah. Apa gadis itu habis menangis? Itu yang ada di pikirannya.
●○●○●○●○
"Man, hari ini gue nggak pulang bareng lo, ya." Amanda menoleh ke sampingnya, di sana sudah ada Kartika yang tersenyum centil.