women's series #2
Amanda, sarjana Manajemen yang lulus dengan predikat cumlaude. Namun, malah luntang-lantung tidak mendapatkan pekerjaan. Sampai suami sepupunya menawarkan pekerjaan di perusahaan temannya, sebagai staff di divisi keuangan.
Awalnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Anda pulang ke kosan aja, ya, Bun? Lagian Dokter bilang Anda nggak apa-apa kok. Ada Ayunda juga di sana. Ya? Ya?"
Sudah hampir sejam Amanda membujuk kedua orang tuanya agar dia diizinkan pulang ke kosan, tidak ke Bogor. Namun, Dania masih tegas menolaknya dengan berbagai alasan. Tentu dia khawatir apalagi Amanda tipe anak yang semuanya diurus ketika sakit.
"Kalo ada apa-apa, terus Ayunda lagi nggak ada, gimana? Kamu ini kalo bertindak nggak mikir dulu. Kalo udah sembuh, kan, bisa pulang ke kosan. Apa salahnya, sih, rehat dulu di Bogor. Lagian kamu juga belum masuk kerja karena ambil cuti." Sanggahan terus mengalir dari Dania, wanita itu masih kekeuh dengan kemauannya.
Amanda pun demikian. Bukan tanpa alasan dia memaksakan diri untuk tetap di kosan. Dia ingin bertemu mantan gebetannya nanti malam sesuai janji mereka. Gadis itu rasa masalahnya ini harus segera teratasi. Dia sudah cukup muak dengan teror bahkan sampai mencelakainya seperti ini.
Di sini Budi lah yang pusing. Pria itu duduk di sofa, berpangku tangan, memperhatikan Ibu dan anak yang sedang berdebat panjang di sana. Sampai Dania meminta bantuannya untuk menyuruh Amanda tetap pulang ke Bogor.
"Udahlah, Anda. Turuti aja kemauan Bunda. Toh, Bunda mau yang terbaik buat kamu. Kami ini khawatir kamu kenapa-napa di sini sendirian. Nanti kalo udah sembuh, kamu juga bisa balik ke sini, kan?" kata Budi yang sependapat dengan Dania.
Amanda memejamkan matanya, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana keadaan sebenarnya. "Intinya ada yang harus Amanda lakuin di sini," jawabnya memberikan gambaran secara garis besar.
"Apa yang mau kamu lakukan emangnya? Soal kerjaan? Biar Ayah telpon Nak Refal, minta izin—"
"Ihh bukan!" sanggahnya cepat. "Ini nggak ada hubungannya sama Pak Refal, jangan kasih tau dia."
Ditengah perdebatan mereka soal kemana Amanda akan pulang, ketukan pintulah yang akhirnya meleraikan. Di baliknya muncul dua laki-laki dan dua perempuan.
"Permisi," ucap Kartika setelah benar-benar masuk dalam ruangan.
Amanda langsung menyunggingkan senyuman, tidak lagi cemberut seperti tadi. "Kalian? Sini, sini," panggilnya pada Kartika, Nina, Hari dan Farel agar lebih dekat.
"Siang, Om, Tante," sapa Hari pada kedua orang tua Amanda.
"Ini teman-teman Anda di kantor, ya? Makasih loh, udah jengukin Anda. Sini, duduk sama Ayah." Budi seperti biasanya tampak ramah jika ada teman Amanda.
"Gimana keadaan lo, Man?"
"Udah baikan. Hari ini udah boleh pulang. Nih, infusnya juga udah di lepas."
"Mbak Amanda cepat sembuh, ya, biar kita bisa nongkrong lagi." Nina mendekat dan Amanda hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ini kalian izin dari kantor? Atau gimana? Kok bisa ke sini?" tanya Dania yang duduk dekat Kartika dan Nina.