Penyerang Misterius

3.6K 245 6
                                        

"Makan dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Makan dulu. Gimana mau minum obat kalo nggak makan."

"Anda nggak napsu, Bun. Anda takut kalo beneran harus operasi. Hasilnya belum keluar," rengek gadis dengan baju khas rumah sakit atas brangkar. Sementara itu Dania menghela napas karena sudah lelah membujuk anaknya.

"Dokter, kan, udah bilang kamu itu nggak apa-apa. Hasilnya juga nanti siang udah di kasih. Lebay banget, deh," cibir wanita itu membuat Amanda mencebik. Dania tidak tahu saja jika Amanda memang sangat takut di operasi, dia bahkan tidak nyenyak tidur semalam karena kepikiran.

Ditengah perdebatan antara Ibu dan anak itu, Budi masuk bersamaan dengan Ayunda. Dania, wanita itu langsung mengadu pada suaminya jika Amanda tidak mau makan. Sementara yang diadukan sudah merajuk. Begitulah keadaan yang selalu di hadapi oleh Budi jika mereka bersama.

"Ayunda, tolong bantu Ayah ngurus bocah ini, ya? Pusing Ayah lama-lama," kata Budi pada Ayunda yang memang sudah dianggap anaknya sendiri. Pria itu pun menarik istrinya untuk sarapan di luar.

Ayunda hanya tersenyum simpul. Sudah tahu tabiat keluarga Amanda dengan baik. Dia pun mengambil di tempat di kursi samping brangkar setelah Dania beranjak dari sana.

"Eh btw lo belum jelasin maksud chat lo kemaren, yang bilang kalo Haikal bukan pelakunya." Amanda tiba-tiba ingat pesan temannya kemarin sebelum kecelakaan.

"Makan dulu, baru aku ceritain."

Amanda langsung mencebik. "Kalian semua sama aja, nggak ngerti perasaan gue," sungut gadis itu yang mau tidak mau mengambil nampan makanan.

"Cepetan makan. Aku nggak lama di sini," tegas Ayunda lagi.

"Ya udah cerita aja sambil gue makan."

Mendengar itu, Ayunda membenarkan posisi duduknya. Kini gadis itu melipat tangan di atas brangkar, tepatnya di samping kaki Amanda. "Pas ketemu kemarin, menurut aku pelakunya nggak akan sefrontal Haikal. Pelaku nggak akan nunjukin gelagatnya secara terang-tetangan. Dia bakal beraksi di belakang kamu."

"Terus menurut lo siapa pelaku sebenarnya?"

Keduanya langsung bertatapan. Amanda menunggu jawaban gadis itu dengan seksama. "Nggak tau," sahut Ayunda santai. Membuat Amanda langsung menyandarkan punggungnya ke belakang.

"Tapi aku udah tau motif orang itu, dan aku yakin alasannya itu."

"Apa? apa?"

"Dia terobsesi sama kamu. Kamu bilang pelaku itu marah, kan, pas kamu buang bunganya? Terus kemarin pas kamu mau jalan sama cowok lain, kamu diserempet motor. Apa kamu nggak ngerasa aneh? Sedangkan jalanan di deerah kantor kamu itu nggak terlalu rame."

Amanda kembali mengingat kejadian kemarin saat ingin masuk ke dalam mobil Kenan. Dia jelas-jelas sudah melihat keadaan jalan sebelum mengitari mobil. Namun, tiba-tiba saja ada motor yang entah datang dari mana.

Amanda [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang