women's series #2
Amanda, sarjana Manajemen yang lulus dengan predikat cumlaude. Namun, malah luntang-lantung tidak mendapatkan pekerjaan. Sampai suami sepupunya menawarkan pekerjaan di perusahaan temannya, sebagai staff di divisi keuangan.
Awalnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sore hari yang mulai gelap, entah karena asap kendaraan atau memang matahari yang kembali ke peraduannya. Semua orang kantor sudah berberes-beres untuk pulang, begitu juga dengan staff Divisi keuangan yang salah-satunya merupakan Amanda.
"Yeyy malam ini nggak lembur," katanya dengan girang sambil membereskan meja sebelum pulang.
"Kayaknya malam ini gue yang bakal lembur," celetuk Hari, salah-satu teman sedivisi mereka.
"Semangat Har! Gue balik dulu."
"Yoi, hati-hati."
Amanda pulang bersama Kartika, berhubung kontrakannya satu arah dengan rumah temannya itu. Jadi dia memutuskan untuk memberikan tumpangan, sekalian agar tidak kesepian di perjalanan.
"Eh, eh, lanjut ghibah yang tadi, dong. Tentang si onoh. Emang kenapa, sih, dia sampe heboh di divisi Pemasaran?"
"Si onoh?" Kartika mengernyitkan dahinya, tidak tahu siapa yang Amanda maksud.
"Nina," bisiknya. "Panggil onoh aja biar nggak ketahuan."
Kartika langsung berdecak kesal. "Bilang, dong," katanya.
Perjalanan mereka sampai ke depan lift untuk turun ke bawah bersama karyawan lainnya. Untuk itu Kartika memutuskan untuk mengunci mulutnya sampai ke parkiran.
"Jadi?" Amanda kembali memancing. Gadis itu memang tidak bisa menahan keingintahuannya.
"Katanya dia dulu suka sama atasannya, manajer pemasaran, tapi sayang di tinggal nikah. Berita itu heboh karna semua orang udah yakin dia yang jadi pacar atasan mereka, soalnya hampir tiap hari bawain bekal lah, lunch bareng lah. Eh tau-tau malah nikah sama orang lain."
"Seriusan?" Amanda yang sedang menghidupkan motor maticnya, langsung heboh.
"Iya, Danu yang bilang."
"Terus, terus, sekarang gimana? Dia galau gitu? Tapi nggak kayak orang galau, deh."
"Tau, deh," sahut Kartika sembari menaikkan bahu. "Belum ada berita baru."
"Kok bisa, sih, dia sampe heboh gitu? Emang orang-orang pemasaran kepo banget, ya, sama dia?" Amanda pun membuat Kartika berpikir.
"Mungkin aja karna dia yang paling cantik di sana. Biasanya, kan, orang cantik itu jadi pusat perhatian terus."
Amanda yang kini melajukan motornya di jalan raya, langsung menyeletuk, "hati-hati lo, entar Danu malah oleng lagi." Disertai dengan semburan tawanya, yang berbaur dengan suara klakson kendaraan-kendaraan di sana.
Kesal, Kartika langsung menoyor kepala Amanda yang terlapisi helm itu. Sampai membuat motor yang mereka boncengi sedikit oleng.
"Gila, ya, lo?!" teriak Amanda yang kesel.
"Lagian lo, sih, bawa-bawa hubungan gue sama Danu. Mending lo urus aja tuh percintaan lo yang nggak ada kemajuan. Eh salah, yang nggak pernah lo mulai."