19 - Kaburnya Tahanan

316 62 21
                                        

Anvayz terus berjalan membuntuti Alan bagaikan anak anjing yang tersesat, lorong cukup ramai karena rata-rata mata pelajaran sudah berakhir sore itu dan besok adalah akhir pekan, membuat para murid bermain dan bersantai.

Sesampainya di kantor, Alan langsung mengisyaratkan Anvayz untuk duduk di sofa panjang depan perapian, sedangkan dia sendiri duduk di sofa single.

"Kau kenapa, hm?" Gumam Alan lembut, matanya dengan hangat menelusuri gadis itu, mencari tanda-tanda penyebab masalahnya.

Anvayz menunduk dan segera memainkan kukunya seakan-akan itu adalah hal yang paling menarik di bumi, "Aku baik-baik saja."

Alan menghembuskan napas kecil saat mendengar isakan lembut gadis itu dan segera bangkit dari duduknya, beringsut mendekat ke sebelah Anvayz dan membawanya ke dalam pelukan.

"Baiklah jika kau tidak mau memberitahunya, apakah kau ingin cokelat panas?" Bisik Alan lembut di telinga Anvayz.

Gadis itu menggelengkan kepalanya dan membalas pelukan Alan, menyembunyikan wajahnya di antara leher dan bahu pria itu.

Mereka tetap dengan posisi itu selama beberapa menit. Saat isakan kecil Anvayz mereda, dia segera melepaskan diri dari Alan dan menatap pria itu dengan sendu, "Terima kasih."

Alan tersenyum dan mengangguk, dia mengambil tangan kiri Anvayz dan menautkannya dengan tangan kanannya.

Anvayz diam saat tautan tangan mereka berada di paha kanan Alan dan malah memilih untuk menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Usapan ibu jari Alan yang lembut di punggung tangannya membuatnya semakin tenang.

"Jangan melihat." Canda Alan saat dia sedang memeriksa kelayakan soalnya dengan soal tahun lalu dari arsip Perpustakaan.

Pria itu hanya menggunakan satu tangan karena tangannya yang lain masih menyatu dengan Anvayz, sesekali membawa itu ke bibirnya untuk mengecup lembut punggung tangan Anvayz.

Anvayz tertawa kecil mendengarnya, namun tawa itu dengan cepat pergi secepat dia datang. "Ke mana kau selama tiga hari ini? Aku menunggumu di Perpustakaan tapi kau tidak kunjung datang."

Alan langsung menoleh memberikan tatapan menyesal dan meminta maaf, "Aku sibuk membuat soal, maaf telah membuatmu menunggu dan tidak mengabarimu."

Anvayz mengangkat bahunya, "Tidak masalah, kau tahu mana yang menjadi prioritasmu."

"Mulai saat ini kau menjadi prioritasku jika itu maksudmu, Anvayz."

Anvayz segera menggeleng cepat, "A-aku tidak bermaksud begitu. Maksudku pekerjaan itu adalah kewajiban dan prioritasmu adalah membuat soal karena Minggu depan sudah ujian. Jika kau tidak memprioritaskan pekerjaanmu maka soal-soal itu tidak akan selesai tepat waktunya, hal yang kau lakukan adalah hal benar, Alan."

Alan tersenyum dan mengangguk, "Terima kasih sudah mempedulikan aku."

"Tidak perlu berterima kasih, semua orang pantas dipedulikan." Balas Anvayz pelan, mengambil salah satu bukunya dengan tangan yang bebas dan mulai membacanya.

Mereka hanya diam selama beberapa saat, menikmati momen damai yang sedang berlangsung. Anvayz dengan bukunya dan Alan dengan perkamen soalnya, tangan mereka masih tertaut.

Alan bingung saat genggaman tangan Anvayz mengendur dan tangannya yang sedang memegang buku tiba-tiba jatuh ke pangkuan, saat dia menoleh ternyata Anvayz sedang tidur nyenyak.

Pria itu lupa dengan perkamennya dan malah fokus ke wajah gadis itu, menikmati wajah cantiknya yang tenang dan damai, berbeda dengan ekspresi sebelumnya.

Namun momen itu tidak berlangsung lama, karena pintu kantor Alan terbanting terbuka dan Snape segera menghampirinya, menatap Alan dengan ekspresi serius.

Twins - SSxOCxARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang