33 - Apa Aku Bagimu?

214 37 12
                                        

Ibu jari yang mengusap kedua punggung tangan Anvayz terhenti kala mendengar ucapan gadis itu, kening Alan berkerut bingung. "Apa maksudmu, Sayang?"

"Apa aku bagimu, Alan?"

"Mengapa tiba-tiba bertanya tentang hal itu?"

Anvayz dengan lembut melepas kedua tangannya dari genggaman Alan, sedikit mundur ketika pria itu mencoba kembali menangkapnya. "Cukup jawab pertanyaannya, Alan, bukan sesuatu yang sulit."

Sambil mendesah, Alan menundukkan pandangan sebelum menatap gadis itu lagi. "Kau muridku dan aku gurumu."

Jantung Anvayz berhenti seketika kala mendengar jawabannya, mulutnya terbuka hendak menjawab tetapi segera disela oleh Alan.

"Tetapi aku mencintaimu, jadi itu merupakan sesuatu yang sulit aku perdebatkan atau aku tolak."

"Oh..."

Tentu saja Anvayz sedikit lega mendengarnya, tetapi belum sepenuhnya menjawab pertanyaan Anvayz. "Lalu?"

Kening Alan kembali berkerut. "Lalu apa?"

"Lalu kita ini apa?"

"Kau inginnya kita menjadi apa, Anvayz?" jawab Alan, tenang.

"Aku yang bertanya terlebih dulu, jawab saja." balas Anvayz, jelas semakin cemas.

Lagi-lagi Alan membuang pandangannya sebentar, sebelum kembali menatap gadis itu. "Jujur? Aku nyaman dengan kita saat ini."

"Oh..."

Kening Alan berkerut kembali untuk yang ketiga kalinya, dengan sigap meraih salah satu tangan gadis itu dan kembali menariknya mendekat sebelum Anvayz dapat menolak lagi. "Dua kali 'oh', pasti ada sesuatu yang lebih dalam di pikiranmu. Apa itu?"

Anvayz dengan paksa menelan gumpalan yang berada di tenggorokannya, mencoba melepaskan diri dari Alan walaupun tidak berhasil. "Hanya itu?"

"Apa maksudmu, Anvayz? Kutanyakan apa yang kau inginkan tetapi kau berkata aku harus menjawabnya terlebih dahulu, namun saat aku sudah menjawabnya kau malah berkata seperti itu. Apa mau mu, Anvayz?"

Menggeleng, Anvayz berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain, tetapi Alan dengan cepat menangkap dagu itu untuk kembali menatapnya. "Jawab aku." ucap Alan lagi.

"Ini konyol." desis Anvayz.

"Sangat konyol jika kau bermain teka-teki seperti ini denganku. Aku bukan peramal handal atau pun legilimens yang terampil, Anvayz, jika kau mau sesuatu maka kau harus mengungkapkannya kepadaku, bukan menyuruhku untuk menebaknya."

Mengangkat satu tangannya yang bebas, Anvayz menunjuk di antara mereka berdua. "Ini. Ini yang aku mau. Kita bersama, tanpa tembok apa pun. Kesalahanku adalah tidak melihat siapa kita. Sungguh bodoh— maksudku, kau adalah guruku, dan aku adalah muridmu. Kau dengan ketenaran yang ada, dan aku dengan diriku sendiri. Jarak kita terlampau cukup jauh, jelas itu bisa merusak reputasimu. Mana mungkin pria tampan dan dewasa sepertimu mau dengan gadis sepertiku? Pria yang bisa memilih wanita mana pun yang dia inginkan, sial— bahkan semua wanita mengantri untuk menjadi milikmu. Terkadang aku bertanya apa yang membuatku berbeda dari perempuan lain? Mengapa kau bahkan mau berurusan dengan seorang sepertiku? Aku hanyalah—"

Ocehan Anvayz yang cepat dan hampir tidak dapat dipahami terpotong ketika Alan segera berdiri dan menciumnya dengan keras, kedua tangannya bergerak memegang panggul gadis itu dan mendorongnya ke meja seberang sebelum menangkup belakang paha Anvayz dan mendudukannya di sana.

Anvayz cukup kaget dengan apa yang terjadi sampai dia didudukkan di meja terdekat dan segera membalas ciumannya, kedua tangannya mengalungkan leher pria itu untuk menariknya lebih dekat, jarinya bergerak menyusuri dan mencengkeram rambut Alan.

Twins - SSxOCxARCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang