36 - Badai dan Quidditch

205 30 22
                                        

Selama seharian penuh, Anvayz tidak keluar dari kamarnya, dia hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah dan mengabaikan orang-orang. Harry, Ron, dan Hermione bertanya-tanya tentang apa yang terjadi tetapi mereka sama sekali tidak mendapatkan jawabannya, Heus dan Zeus pun sepertinya tutup mulut.

Jangan tanya bagaimana keadaan Alan saat ini, karena selama seharian penuh pria itu berkeliaran di lantai tujuh seperti orang gila, berharap bisa berpapasan dengan Anvayz walau terdengar mustahil. Alan juga sempat bertemu dengan Harry, Ron, dan Hermione, tetapi jelas mereka tidak membantu. Sedangkan setiap kali Heus dan Zeus keluar, mereka menatap Alan dengan pandangan menusuk.

"Tolong, bisakah kalian memanggil dia?" Mohon Alan untuk yang kesekian kalinya, menarik si kembar ke ujung lorong agar percakapan mereka tidak terdengar siapapun.

"Kami sudah mencobanya, Alan, tetapi kau sadar apa yang membuatnya tidak mau." Ucap Zeus jengah.

Alan mengacak-acak rambutnya frustrasi, "Aku tahu, oke? Aku tahu dan aku sangat menyesal. Apakah ada cara lain agar dia mau keluar dari kamarnya?"

Heus dan Zeus mengangkat bahu, "Esok hari pasti dia akan mengikuti kelas."

"Maksudku hari ini!"

Mereka kembali menggeleng.

"Bagaimana jika aku ke kamarnya?"

"MANA BISA!!"

Alan mengatupkan rahangnya dan mengangguk pasrah, mengucapkan selamat tinggal kepada keduanya sebelum pergi dari sana.

*#*#*#

Selama beberapa hari ke depan, Anvayz bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak menjauh dari Alan, tidak pula mendekati Alan. Anvayz juga meminimalisir percakapan mereka, hanya berbicara ketika dibutuhkan, dan wajahnya sangat datar tanpa emosi apapun.

Hal itu malah membuat Alan lebih frustrasi daripada Anvayz yang merengek dan mengomel kepadanya.

Pria itu mencoba berbicara dengannya, berkali-kali, tetapi sikap Anvayz yang dingin membuatnya sulit untuk mengutarakan isi dari pikirannya. Anvayz selalu bersedia mendengarnya, namun Alan selalu gagal menjelaskan.

Yang membuat pria itu bersedih, Anvayz seperti tahu bahwa Alan tidak mampu menjelaskan, dan gadis itu bersikap biasa saja seperti sudah tidak mempunyai ekspektasi tinggi terhadapnya.

Seperti Anvayz sudah kehilangan perasaan terhadapnya.

Walaupun begitu, Alan tetap berusaha bersikap baik, mendekatinya dan mengajaknya berbincang normal walau hanya membahas cuaca.

Bahkan saat ini, Alan menghampirinya ke Lapangan Quidditch ketika tahu bahwa Anvayz sedang berlatih di sana untuk menggantikan Angelina yang mengalami demam parah. Sesuai janjinya kepada Harry, dia akan menjadi Chaser cadangan.

Saat ini Alan hanya duduk di salah satu bangku, menatap mereka yang sedang terbang dengan sapu dan berputar-putar sambil memakan camilan yang dibawanya.

Anvayz yang melihat Alan di sana pun bingung dan terbang menghampirinya. "Professor, apa yang kau lakukan di sini?"

Anvayz berhenti memanggil Alan dengan nama depannya sejak saat itu, hatinya sakit setiap kali gadis itu melakukannya, tetapi Alan mencoba bersikap biasa saja dan memaksakan senyum. "Melihatmu berlatih."

Gadis itu mengerutkan keningnya sedikit, terlihat bingung dengan sikap Alan. "Tidak ada yang menarik dalam melihat seseorang berlatih."

"Oh tapi aku melakukannya." Balas Alan, mata hazelnya menangkap mata gadis yang dia rindukan.

Ketika Anvayz ingin membuka suara lagi, ia dipanggil oleh Harry yang menyebabkannya langsung menoleh ke sumber suara. "Sebentar!" Teriaknya kepada Harry, sebelum kembali menatap Alan dan tersenyum canggung. "Sampai jumpa."

Twins - SSxOCxARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang