Setelah puas memakan cemilan yang diberikan oleh Alan-walaupun masih banyak yang tersisa, Anvayz, Harry, Ron, dan Hermione pergi berjalan-jalan mengelilingi kastil sambil membicarakan hal-hal acak. Sedangkan Heus dan Zeus pergi untuk membuat keonaran selanjutnya.
Saat mencapai halaman, Anvayz mempunyai ide yang terlintas di benaknya. "Bagaimana jika kita ke Danau Hitam?"
Harry, Ron, dan Hermione mengangguk antusias, "Hebat, kita bisa berlomba melempar batu!" kompak Harry dan Ron.
"Aku bisa belajar." sahut Hermione.
"Ayo!" seru Anvayz.
Mereka semua berjalan menuju ke Danau Hitam, dekat dengan sebuah pohon besar yang berada di pinggirnya.
Hermione duduk bersandar di pohon itu sambil membuka buku yang dia bawa, sedangkan Anvayz, Harry, dan Ron menggulung lengan baju dan celana mereka agar tidak basah saat kaki mereka sedikit memasuki air.
Anvayz, Harry, dan Ron mulai mengumpulkan batu kerikil sebelum memasuki air, mereka saling memandang dan memulai aba-aba untuk melemparkan kerikil itu sejauh mungkin.
Lemparan pertama dimenangi oleh Harry, dia tersenyum sombong kepada keduanya.
Lalu mereka melakukan lemparan kedua, yang dimenangi oleh Ron, dia pun sama sombongnya seperti Harry.
Kemudian lemparan ketiga dimenangi oleh Ron lagi, membuat Anvayz mengerang kesal.
Lemparan kerikil terus berlanjut sampai batu kesepuluh, skor sementara dimenangi oleh Ron dengan empat poin, skor kedua diduduki oleh Harry dengan empat poin, skor terakhir didapat oleh Anvayz dengan dua poin.
Anvayz mengerang frustasi sambil menarik tongkatnya dari saku untuk memercikkan air kepada Harry dan Ron, membuat kedua pria itu sedikit basah. Mereka berdua ingin membalas perbuatan Anvayz, namun terhenti saat menoleh ke balik bahu gadis itu.
Anvayz mengernyit heran, mengikuti arah pandang Harry dan Ron ke balik bahunya, dia bertemu dengan Alan yang sedang menahan senyum manisnya sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"H-halo Al-Professor Rickman."
"Hai, Anvayz," dia menoleh ke arah teman-teman gadis itu, "Harry, Ron, Hermione."
"Halo, Sir." kompak mereka bertiga.
"Ada yang bisa saya bantu, Sir?" tanya Anvayz, bingung karena tiba-tiba Alan ada di belakangnya.
Alan menggeleng, "Tidak."
"...Lalu?" tanya Anvayz lagi, memiringkan kepalanya sedikit.
"Apa yang kalian mainkan? Mengapa pakaian Harry dan Ron basah?"
Anvayz ingin membuka suara, namun disela oleh Harry, "Aku, Ron, dan Anvayz memainkan pertandingan lempar kerikil paling jauh, lalu kami berdua seri, Anvayz kesal dan mencipratkan air kepada kami."
Alan tertawa, "Benarkah, Anvayz? Kau kesal karena kalah?"
"Tidak," Anvayz menggerutu, melipat kedua tangannya di dada. "Aku hanya sedikit tidak terima."
Alan memutar matanya, "Coba kalian mainkan lagi, aku ingin melihatnya."
Anvayz menaikkan satu alisnya, "Kau ingin mempunyai alasan untuk mengejekku, Sir?"
Alan menggelengkan kepalanya, tersenyum manis. "Tidak, aku hanya ingin melihat."
Anvayz merotasikan bola matanya, menerima kerikil yang sudah dikumpulkan oleh Harry dan Ron, mau tidak mau dia kembali ikut bertanding.
Alan berdiri tiga langkah di belakang Anvayz sambil melipat kedua tangannya di dada.
Mereka mulai melakukan lemparan pertama, yang lagi-lagi dimenangi oleh Ron. Lalu lemparan kedua dimenangi oleh Harry. Lagi-lagi Anvayz mengerang frustasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Twins - SSxOCxAR
RomansaApa jadinya jika Severus Snape; Professor yang mendapat julukan terdingin, tergalak, terkejam dan tak berperasaan di Hogwarts mempunyai saudara kembar yang memiliki sifat berkebalikan? Bagaimana perasaan Anvayz kepada Severus Snape selama dua tahun...
